BRIEF.Id – Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) menyatakan konflik Timur Tengah telah memicu masalah bagi perusahaan AS baik dasi sisi biaya energi hingga ketenagakerjaan.
Dalam laporan Beige Book yang dirilis Rabu (15/4/2026), The Fed menyebit konflik Timur Tengah menimbulkan masalah bagi perusahaan-perusahaan AS, yang bukan hanya sekadar kenaikan biaya energi.
Lebih dari itu, konflik Timur Tengah disebut sebagai sumber utama ketidakpastian, yang mempersulit perusahaan dalam pengambilan keputusan terkait perekrutan tenaga kerja, penetapan harga, dan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk ekspansi atau investasi.
“Ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah membuat banyak perusahaan mengadopsi sikap ‘wait-and-see’, baik dalam perekrutan karyawan hingga melakukan investasi,” sebut The Fed.
Dalam laporan itu, The Fed menyebut aktivitas ekonomi tetap tumbuh dengan laju ringan hingga moderat di sebagian besar wilayah AS di tengah ketidakpastian global terkait konflik Timur Tengah.
Meski demikian, biaya energi dan bahan bakar melonjak di semua negara bagian, bahkan menyebabkan tekanan harga barang meluas melampaui sektor energi di 12 negara bagian.
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah telah mendorong harga bensin di AS naik signifikan ke level tertinggi sejak 2022, yang menyebabkan inflasi AS melonjak pada Maret 2026.
“Biaya energi dan bahan bakar naik tajam di semua distrik terkait konflik Timur Tengah, sehingga meningkatkan biaya pengangkutan dan pengiriman, serta harga plastik, pupuk, dan produk berbasis minyak lainnya.Tekanan biaya input di luar kenaikan terkait energi juga terjadi secara luas,” ungkap The Fed.
Para pembuat kebijakan The Fed, juga mengisyaratkan preferensi untuk mempertahankan biaya pinjaman tetap stabil untuk beberapa waktu ke depan sambil mengevaluasi data ekonomi.
Terkait dengan itu, para pejabat The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) dalam pertemuan FOMC, pada 28–29 April 2026.
Pasar Tenaga Kerja
Sementara untuk pasar tenaga kerja AS dinilai masih stabil, namun beberapa negara bagian mencatat peningkatan permintaan untuk pekerja sementara atau kontrak, karena perusahaan tetap berhati-hati melakukan perekrutan permanen.
Di sisi nlain, laporan pemerintah terpisah yang dirilis awal bulan ini menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS kembali menguat pada Maret dan tingkat pengangguran menurun, menandakan adanya stabilisasi di pasar tenaga kerja ketika perang dengan Iran mulai berlangsung.
Beberapa perusahaan yang disurvei dalam Beige Book mengatakan bahwa peningkatan produktivitas, yang didorong oleh teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memungkinkan perusahaan menunda atau mengurangi perekrutan tenaga kerja.
Meski demikian, sejumlah besar negara bagian melaporkan bahwa teknologi AI belum memberikan dampak signifikan terhadap perekrutan tenaga kerja secara keseluruhan. (jea)


