S&P Global: Peringkat Kredit Indonesia Rentan Konflik Timur Tengah

BRIEF.ID – S&P Global Ratings menyatakan peringkat kredit global Indonesia paling rentan di antara negara Asia Tenggara, dalam menghadapi dampak konflik Timur Tengah.

Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Selasa (14/4/2026), perusahaan pemeringkat kredit global yang berpusat di Amerika Serikat (AS) ini, secara khusus menyebut peringkat sovereign Indonesia semakin rentan jika konflik Timur Tengah terus berlanjut.

“Kualitas kredit negara dengan basis peringkat yang tipis dapat turun lebih dalam, di tengah skenario gangguan pasar energi yang lebih panjang,” demikian laporan S&P Global, dikutip Kamis (16/4/2026).

Berbeda dengan penilaian terhadap Indonesia, S&P Global justru memberikan apresiasi dukungan terhadap kemampuan kredit atau pinjaman pemerintah dari sejumlah negara-negara dalam kategori developing dan emerging market, yang dinilai lebih kuat dan resilien.

Indonesia saat ini menyandang peringkat “BBB/Stable/A-2” dari S&P Global. Peringkat ini mencerminkan bahwa suatu negara atau perusahaan memiliki kemampuan untuk membayar utang, namun rentan jika kondisi ekonomi memburuk.

“Ada tiga faktor potensial yang akan dihadapi oleh Indonesia, jika situasi global tak kunjung membaik, yaitu pembengkakan belanja negara untuk sektor energi, terbatasnya pembayaran bunga utang negara, dan pelebaran defisit akibat lonjakan impor minyak,” tulis S&P Global.

Meski demikian, S&P Global merespons positif upaya pemerintah Indonesia untuk menjaga kinerja fiskal, termasuk pemangkasan anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG), serta menjaga defisit tak lebih dari 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

S&P menambahkan, Pemerintah Indonesia harus memaksimalkan potensi ekspor komoditas untuk mempersempit pelebaran defisit fiskal, dan mengurangi tekanan terhadap PDB.

“Secara keseluruhan, metrik kredit Indonesia kemungkinan akan melemah dalam skenario dasar kami. Namun sebagai pengekspor komoditas, Indonesia mungkin akan memitigasi pelemahan tersebut dan meringankan tekanan pada peringkat soveregin,” sebut S&P.

Penilaian terbaru S&P tersebut, semakin mempertegas kajian World Bank atau Bank Dunia, yang merevisi proyeksi PDB atau pertumbuhan ekonomi Indonesia Tahun 2026 menjadi 4,78%.

Revisi ini dilakukan sebagai respons atas lonjakan harga minyak global dan sentimen risk-off atas pendapatan negara berbasis komoditas, seperti Indonesia. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Greenpeace Kritik Dua Tahun Prabowo-Gibran: Krisis Iklim Bikin Biaya Hidup Makin Mahal

BRIEF.ID - Greenpeace Indonesia mengkritik penanganan krisis iklim selama...

Investasi Rp3.923 Triliun di Era Prabowo, Rakyat Dapat Apa?

BRIEF.ID - Pemerintah mengklaim realisasi investasi Indonesia selama dua...

Dua Tahun Pemerintahan, Prabowo Perkuat Alutsista TNI

BRIEF.ID - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperkuat alat utama...

Greenpeace Bentangkan Spanduk Krisis Iklim di Bundaran HI, 6 Aktivis Dirawat di Klinik Polda Metro Jaya

BRIEF.ID - Enam aktivis Greenpeace Indonesia dievakuasi dari Monumen...