Browsing Category

News

News

Ovo Perkenalkan ‘OVO DanaTara’ Pembiayaan Inovatif untuk Permberdayaan UMKM

December 15, 2019

Gencar dorong pertumbuhan tingkat inklusi keuangan melalui QRIS, hari ini OVO mendorong demokratisasi layanan keuangan bagi lebih dari 60 juta UMKM Indonesia.

Jakarta – OVO, platform pembayaran dan layanan keuangan digital terdepan  di Indonesia memperkenalkan inovasi pembiayaan OVO DanaTara yang dirancang untuk pelaku UMKM. Layanan keuangan ini bertujuan untuk memperluas akses bagi usaha mikro kecil serta menengah dalam mengembangkan potensi bisnis.

Berdasarkan data BPS, kontribusi UMKM terhadap PDB Indonesia telah mencapai 60%, serta menyerap 97,22% tenaga kerja secara nasional[1]. Namun, kurang dari 15% UMKM memiliki akses terhadap produk pembiayaan[2]. Rendahnya penetrasi pembiayaan dipengaruhi oleh keterbatasan akses terhadap layanan keuangan serta literasi keuangan yang belum merata.

Presiden Direktur OVO, Karaniya Dharmasaputra mengatakan, “Untuk menjawab tantangan tersebut, OVO memperkenalkan OVO DanaTara sebagai solusi pengembangan usaha, pengelolaan arus kas dan tambahan modal usaha bagi pelaku UMKM Indonesia. Solusi ini mendukung kebutuhan UMKM untuk memperoleh pembiayaan modal usaha, dengan cara yang jauh lebih mudah dan sederhana. Sebelumnya DanaTara telah tersedia bagi pegiat UMKM yang tergabung dalam platform e-commerce seperti Tokopedia, Lazada, Shopee dan BukaLapak.”

OVO DanaTara memberikan pelaku UMKM akses pembiayaan sampai Rp 500 juta, dengan status pengajuan yang diproses dalam 2-5 hari kerja  dan tenor sampai dengan 12 bulan.

Sejak diluncurkan di tahun 2017, saat ini telah ada 450.000 pegiat UMKM telah tergabung dalam ekosistem OVO, sejalan dengan meningkatnya transaksi uang elektronik sebesar 200% hingga bulan Juli 2019[3]. Terus meningkatnya adopsi pembayaran digital menjadi prospek pasar yang sepatutnya dapat menjadi momentum pendorong tumbuhnya UMKM nasional. Ketanggapan pemerintah dalam menghadirkan stimulus bagi UMKM pun terus meningkat. Sejak dicanangkan pada bulan Agustus 2019, inovasi QRIS dari Bank Indonesia dipandang sebagai langkah besar terciptanya ekosistem keuangan digital nasional yang inklusif.

“Sebagai pelaku industri tekfin, OVO mengemban tanggung jawab untuk mempercepat inklusi keuangan melalui layanan yang aman dan merangkul masyarakat, termasuk pegiat usaha mikro, kecil dan menengah. Saat ini, OVO sedang melaksanakan implementasi QRIS sesuai arahan Bank Indonesia, dan kami percaya bahwa inovasi sistem pembayaran merupakan langkah awal pemanfaatan teknologi bagi perkembangan UMKM,” tutur Karaniya.

Pembukaan Festival Gerakan Warung Nasional 2019

Ditemui saat gelaran Festival Gerakan Warung Nasional yang digagas oleh Tokopedia dan Warung Pintar, OVO hadir sebagai mitra strategis untuk memberikan edukasi mengenai pembayaran dan layanan keuangan digital bagi pelaku UMKM nasional.

Turut hadir dalam acara ini Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki; Presiden Direktur OVO, Karaniya Dharmasaputra; CEO dan Founder Tokopedia, William Tanuwijaya; CEO dan Co-Founder Warung Pintar, Agung Bezharie Hadinegoro; dan Ketua Umum Induk Koperasi Wanita Pengusaha  Indonesia (INKOWAPI), Ir.  Sharmila, M.Si.

Dalam kesempatan yang sama, Karaniya menyatakan, “Sebagai ekosistem terbuka, OVO siap berkolaborasi dengan pemerintah serta lembaga keuangan untuk mendorong pemerataan akses layanan keuangan yang aman, nyaman dan bermanfaat bagi masyarakat.” pungkas Karaniya. (*)

______________

  • [1] Sensus Ekonomi BPS 2016
  • [2] Bain, Digital Financial Services in Indonesia, Maret 2019
  • [3] Bi.go.id
News

OVO Tingkatkan Bisnis UMKM

December 14, 2019

Jakarta – Dalam mengembangkan perekonomian masyarakat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, OVO ikut berkontribusi dalam acara Festival Gerakan Warung Nasional yang digagas oleh Tokopedia.Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra mengatakan bahwa OVO sebagai platform e wallet di Indonesia akan mendorong penetrasi pembayaran digital dan akselerasi inklusi keuangan. Salah satu cara yang dilakukan melalui peran aktif dalam implementasi QRIS, serta memacu pertumbuhan ekonomi kerakyatan.”Dibawah krisis ekonomi Indonesia dan yang menjadi pertahanan kita adalah UKM, nah saya bisa membayangkan kalau 10 tahun lalu UKM bisa menjadi pertahanan yang luar biasa apalagi jika ditambah dengan teknologi, maka warung akan bisa menjadi kekuatan ekonomo yang sangat luar biasa,” ujarnya, Jakarta, Sabtu (14/12).Dijelaskan saat ini OVO akan terus ikut berkontribusi dengan transformasi warung-warung. Sehingga diharapkan dapat mewujudkan keinginan Presiden RI Joko Widodo dalam memajukan perekonomian Indonesia.”Saat ini merchant di OVO sudah mencapai 500.000. Periode ini adalah periode UMKM. Pengguna OVO adalah UMKM. “

News

Rhenald Kasali Luncurkan Buku Sentra Inspiring School

December 13, 2019

Jakarta – Akademisi dan Praktisi Bisnis asal Indonesia Rhenald Kasali meluncurkan sebuah buku mengenai pendidikan yang berjudul Sentra Inspiring School. Buku tersebut diambil dengan tema membangun kecerdasan dan kemampuan anak sejak usia dini, demi masa depan.

Rhenald mengatakan dalam buku yang dituliskannya banyak materi pembelajaran yang dapat mengubah metode pembelajaran lebih mudah dan efesien. Hal ini dikarenakan ilmu pendidikan terus menunjukkan perkembangan yang cepat.

“Buku ini pengalaman kami dalam dunia pendidikan,” katanya di Jakarta, Jumat (13/12).

Rhenald juga menjelaskan bahwa metode pendidikan anak usia dini paling diminati adalah metode sentra. Tapi, menurutnya metode tersebut masih cukup biasa.

Sehingga dengan adanya buku tersebut dirinya mencoba menjelaskan teori, konsep, dan perkembangan metode sentra. “Indonesia kurang digital talent. Pendidikan dasar dan kecerdasan di harapkan memiliki pemikiran yang eksporatif.”

News

The Meeting of Minds Forum 2019, Suharso : Bantu Pembangunan Berkelanjutan

December 12, 2019

Jakarta – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan kegiatan The Meeting of Minds Forum 2019 merupakan sebuah wadah untuk berdiskusi dalam pengembangan sosial manusia. Hal tersebut juga menyangkut terkait pembangunan berkelanjutan (SDG’s).

Menurutnya permasalahan terkait SDG’s ini bukan harus pemerintah saja yang menyelesaikannya, tetapi semua masyarakat harus juga membantu. Sehingga dengan adanya kegiatan forum ini dapat membantu permasalahan tersebut.

“Ya ini kan bagian dari partisipasi publik, partisipasi masyarakat untuk bersama – sama menyelesaikan SDG’s. Jadi SDG’s ini bukan hanya urusan pemerintah. Tapi juga terbukti lembaga-lembaga seperti beliau dan sekarang masih banyak juga lembaga-lembaga yang asedemis yang sama sama ingin tidak ada satu orang pun tertinggal dalam kehidupan masa depan.”

Sedangkan adanya kegiatan forum ini juga membantu dalam menambah pengetahuan terkait masalah SDG’s. Sehingga permasalahan yang tidak terpikirkan dapat diselesaikan dengan maksimal.

“Jadi partisipasi seperti ini ya penting dan harus di dorong dan bagus sekali hari ini membicarakan tentang bagaimana mengatasi pembiayaan yang lebih tidak biasa , yang out off the box, bahkan yang no box yang tidak terpikirkan sama sekali.”

News

Yenny Wahid Sebut Perbankan Syariah Perlu Lebih Banyak Ekonom

December 11, 2019

Jakarta – Direktur Wahid Institute Yenny Wahid, mengatakan bila perbankan syariah di Indonesia masih sangat kecil. Namun dirinya yakin bila perbankan syariah bisa tumbuh menjadi besar.

Yenny sendiri mengkritisi perbankan syariah di Indonesia yang saat ini pengelolaannya masih banyak diisi oleh orang dari sektor agama. Padahal, sebagai industri perbankan seharusnya lebih banyak diisi oleh orang-orang ekonomi.

“Orang yang mengelola perbankan syariah sekarang ini lebih banyak yang berbasis agama daripada ekonomi. Sehingga dalam perbankan syariah, non performing loan-nya tinggi, karena tidak di-manage dengan baik,” kata Yenny, Rabu (11/12/2019).

“Perbankan syariah ini harus dilihat secara ekonomi. Perlu orang yang mengerti ekonomi bukan hanya dari sisi agama saja,” pungkasnya.

News

Meeting of Minds Forum 2019, Menyatukan Pemikiran Mengatasi Kemelut Global

December 11, 2019

JAKARTA — Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi berskala internasional Meeting of Minds Forum 2019 (MeMinds), yang bertujuan menyatukan  beragam pemikiran, kemampuan, dan keahlian lintas budaya dan bangsa  untuk mengatasi  berbagai ketimpangan serta kemelut yang  selama ini membelenggu masyarakat di berbagai penjuru dunia.

Konferensi bertema “Menghadapi Isu-isu Global Demi Masa Depan yang Makmur dan Berkelanjutan” yang diselenggarakan Heritage Amanah International bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) digelar di Opus Grand Ballroom, The Tribrata, Jakarta, pada 11-12 Desember 2019.

Pertemuan dua hari ini dipimpin oleh Ketua Bersama MeMinds Prof Dr Ismail Serageldin, seorang Pustakawan Emeritus Alexandria yang juga mantan Wakil Presiden Bank Dunia, didukung oleh Ketua Bersama MeMinds Forum 2019 Salina Nordin CHFC, yang merupakan pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Heritage Amanah International.

Selain diskusi panel, pada konferensi ini juga akan digelar Business Matching and Networking, Round Table Discussion, dan penganugerahan penghargaan Champion MeMinds MIDAS Awards. 

Ismail Serageldin mengungkapkan, Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki pertumbuhan ekonomi yang dinamis dan jumlah anak muda yang mencapai 129 juta jiwa atau 48% dari total penduduk negeri ini.

“Ini kekayaan luar biasa. Ide-ide anak muda ini harus dikembangkan untuk diaktualisasikan. Ditambah lagi Produk Domestik Bruto Indonesia mencapai 5,5% per tahun. Pertumbuhan ini sangat baik, terutama dalam mengurangi kemiskinan,” kata Ismail di Jakarta, pada Rabu (11/12).

Di sisi lain lanjutnya, Indonesia sedang dihadapkan pada sebuah tantangan besar, karena Ibu Kota Jakarta sedang ‘tenggelam’ dan akan ada ibu kota baru di Pulau Kalimantan.

“Indonesia, memiliki keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa, baik di darat dan laut. Dan, saya pikir negara ini sedang bergerak, dengan banyak potensi untuk masa depan dan juga tantangan besar,” katanya.

Menurut Ismail, MeMinds Forum 2019 akan mempertemukan berbagai generasi dengan latar belakang budaya, pendidikan, dan profesi yang berbeda untuk membahas isu-isu yang selama ini menjadi keprihatinan dunia. Selain masalah perubahan iklim, MeMinds Forum 2019 juga akan mengeksplorasi lebih jauh tentang perekonomian syariah dan wakaf yang kini tumbuh pesat di berbagai belahan dunia.

“Saatnya, bagi kita menyatukan berbagai kemampuan di tingkat nasional dan internasional untuk menyelesaikan tantangan global maupun lokal, mulai dari kemiskinan, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, deforestasi, erosi tanah, polusi udara, serta tanah dan air yang merusak lingkungan kita,” kata Ismail

Prestasi Indonesia

Sementara itu, Ketua Bersama MeMinds Forum 2019 Salina Nordin mengatakan, Bank Dunia menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity/PPP) nomor 10 terbesar di dunia.

“Meeting of Minds Forum 2019 akan menjadikan Indonesia sebagai studi kasus, khususnya terkait perbankan dan keuangan Islam. Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara yang memiliki 268 juta jiwa penduduk yang mayoritas muslim,” jelas Salina.

Lebih lanjut, Salina menjelaskan, masyarakat internasional mengapresiasi langkah-langkah konkret yang dilakukan pemerintahan Presiden Joko Widodo – Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin dalam mengurangi kemiskinan melalui program jaring pengaman sosial.  Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, Indonesia mengalami titik terendah dalam hal persentase kemiskinan sejak tahun 1999, yakni sebesar 9,82% pada Maret 2018. 

“Bank Dunia mengharapkan perlunya meningkatkan investasi yang pro-masyarakat miskin, terutama di bidang pembangunan kualitas sumber daya manusia, mempromosikan pertumbuhan inklusif,” tutur Salina. 

Disebutkan lembaga dan instrumen keuangan Islam harus berakar pada redistribusi dan filantropi, yang melibatkan unsur-unsur Qard al Hasan, Zakat, dan sedekah.

“Saya yakin, pola seperti ini akan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat miskin dan menciptakan jaring pengaman sosial. Instrumen wakaf sangat ideal untuk menciptakan dan melestarikan aset di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial,” katanya.

Selain itu, lanjut Salina, MeMinds Forum 2019 akan menyatukan ide-ide dan keahlian para pelaku usaha dan akademisi di tingkat ASEAN, Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Tengah untuk menemukan solusi  terbaik di  bidang ekonomi, sosial-budaya,  politik,  dan ilmiah dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Tujuan yang dicanangkan PBB bersama negara-negara lainnya, dituangkan dalam  Resolusi PBB  yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 sebagai upaya  pembangunan bersama sampai tahun 2030 yang merupakan kelanjutan atau pengganti dari Tujuan Pembangunan (Millenium Development Goals/MDGs).

Menurut Salina,  konferensi MeMinds Forum 2019 akan menghadirkan pembicara yang terdiri atas Menteri Riset, Teknologi, dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro, CEO Grup Dubai Islamic Bank, Dubai Dr Adnan Chilwan, Ketua Dewan Wakaf Indonesia yang juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Muhammad Nuh, Mantan Penasihat Senior Bank Dunia dan Pendiri Bersama The Billion Dollar Fund for Woman, Amerika Serikat Nadereh Chamlou, Ketua Komisi Pengembangan Lahan Kering Internasional (IDDC) dan Mantan Menteri Pertanian dan Reklamasi Lahan, Mesir  Prof  Adel El Beltagy, serta Penasihat Sains Senior Hukum OFW yang juga mantan Presiden Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan (AAAS) dan Peraih Medali Sains Nasional 2006, AS Nina Fedoroff.

Pembicara lainnya, Amr Ezzat Salama (mantan Menteri Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Ilmiah Mesir, dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Universitas Arab, Yordania), Ahmed M. Darwish (mantan Menteri Negara untuk Pengembangan Administrasi dan Mantan Ketua Pertama Otoritas Umum Zona Ekonomi Terusan Suez, Mesir),  Abdulkader Alfantookh (Kepala Strategi Staf Grup Riset dan Pemasaran Saudi dan Anggota Komite Perdagangan Internasional (CIT) untuk Grup Arab Saudi, Arab Saudi), Anggito Abimanyu (Kepala Badan Eksekutif Manajemen Keuangan Haji Indonesia (BPKH),  Diah Saminarsih (Penasihat Senior untuk Jender & Pemuda Organisasi Kesehatan Dunia Jenewa), Alexander Böhmer (Kepala Divisi Asia Tenggara, Sekretariat Hubungan Global, OECD), dan Dato’ Dr Mohd Azmi Omar (Presiden & CEO Pusat Internasional untuk Pendidikan Keuangan Islam (INCEIF), Malaysia).

Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro menyatakan, saat ini semakin banyak anak muda yang terjun ke dunia sosial entrepreneurship, yaitu bidang usaha yang membantu kehidupan masyarakat.

Ia menyatakan, kaum muda yang memiliki usaha harus dibarengi dengan corporate social responsibility (CSR). Contohnya, mendaur ulang sampah plastik menjadi energi dan mendaur ulang plastik menjadi produk lain selain ramah lingkungan, CSR ini juga membantu masyarakat mendapat penghasilan dari hasil daur ulang.

“Ketika Anda semua menjadi pengusaha dan menjadi investor, doronglah investasinya untuk membuka lapangan kerja,” kata Bambang.

Disebutkan, dalam dunia entrepreneurship ada dua jenis entrepreneur, yaitu business entrepreneur dan social entrepreneur.  Ia mempersilahkan anak muda  memilih yang cocok bagi pribadinya masing-masing. “Kalau mau jadi business entrepreneur, silakan. Asal bisnisnya tidak merusak lingkungan,” katanya. (*)

News

The Meeting of Minds Forum, Yenni: Beri Solusi Besar

December 11, 2019

Jakarta – Direktur Wahid Foundation Yenni Wahid mengatakan bahwa dunia saat ini sedang mengahadapi permasalahan yang cukup besar dalam ruang lingkup sosial. Permasalahan tersebut meliputi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi.

Yenni mengatakan bahwa untuk menghadapi hal tersebut harus ada sebuah pertemuan khusus untuk membicarakannya. Salah satu acara yang dimaksud olehnya adalah The Meeting of Mind Forum dengan tema “Facing Global Disruption”.

“Jadi perlu ada penyatuan presepsi, perlu ada pertemuan. Para ahli dari latar belajang yang berbeda dapat berdiskusi, sehingga dapat membicarakan dan memberikan solusi,” ujarnya di Jakarta, Rabu (11/12).

Dijelaskan bahwa adanya forum tersebut memberikan kesempatan untuk semua pihak, untuk memberikan sebuah solusi tepat dalam mengahadapi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi yang sedang dihadapi oleh dunia.

“Forum ini diikuti banyak pihak yang berbeda, umur yang berbeda, geografis yang berrbeda, tapi fokusnya di Asia dan Timur tengah ini adalah kekuatan yang belum berkaitan. Kalau di gabungkan membuat solusi besar dari permasalah yang ada di dunia.” (**)

News

Menggantungkan Harapan Besar Riset dan Inovasi Nasional pada BRIN

December 10, 2019

Jakarta – Kelahiran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tidak lepas dari disahkannya Undang-Undang Nomor 11 tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek) oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 13 Agustus 2019 lalu. Kehadiran BRIN membawa harapan baru pada riset dan inovasi di Indonesia, yang selama ini terkesan mandek dan bahkan hanya untuk publikasi tanpa ada implikasi pada industri dan manfaat untuk masyarakat.

Menurut Co-Founder & Advisor Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG), Irsan Pawennei, setelah UU Sisnas Iptek dan BRIN terbentuk ada beberapa hal yang menjadi perhatian, antara lain rencana pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi; kelembagaan BRIN; mekanisme dana abadi penelitian; registrasi penelitian, pengembangan, pengkajian dan enerapan (litbangjirap); wajib serah dan wajib simpan; komite etik dan kode etik; penerapan sanksi yang bertahap; serta sistem informasi Iptek nasional. Irsan mengatakan bahwa hal tersebut penting guna memastikan riset yang dilakukan menjadi acuan bagi pemerintah dalam pengambilan kebijakan.

“UU Sisnas Iptek sudah mengamanahkan bahwa Iptek menjadi dasar dalam perumusan kebijakan dan menjadi solusi masalah pembangunan. Oleh karena itu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus menggunakan data-data riset dalam mengambil kebijakan. Saat ini harus diakui bila update data di Indonesia masih sulit karena masih ketinggalan, masih banyak data sebelum tahun 2010 dijadikan acuan indikator global, seperti Global Competitiveness Index. Diharapkan Sistem Informasi Iptek Nasional yang menjadi salah satu turunan UU Sisnas Iptek bisa mendata seluruh  SDM Iptek, jumlah riset, serta luarannya,” katanya dalam acara media gathering di kawasan Bendungan Hilir, Senin (9/12/2019).

Karena itu, Irsan memberikan beberapa usulan pada pemerintah untuk memaksimalkan peran BRIN dalam memajukan dunia riset dan inovasi Indonesia. Pertama adalah menjadikan BRIN sebagai regulator dan fasilitator yang memastikan integrasi aktivitas litbang jirap, invensi dan inovasi. Fungsi ini dijalankan dengan memisahkan antara lembaga yang melakukan aktivitas riset dengan lembaga yang memberikan arah dan pendanaan riset.

Kedua, di sisi pendanaan, BRIN bisa berperan sebagai penyalur pendanaan riset satu pintu, sehingga tidak ada lagi penyaluran dana kegiatan litbang ke berbagai kementerian/lembaga. Dalam hal ini, BRIN sebagai pengambil keputusan pendanaan juga dapat menyalurkan dana abadi penelitian bekerjasama dengan lembaga pendanaan yang mempunyai manajer investasi dalam mengelola dana.

“Ketiga adalah dengan mendukung skema kompetisi nasional. Sehingga peneliti dari berbagai lembaga harus berkompetensi untuk mendapatkan dana riset. Dengan begitu, diharapkan akan menumbuhkan peneliti yang berdaya saing,” ucap Irsan.

Terkait penunjukan Bambang Brodjonegoro sebagai Menteri Ristekdikti/Kepala BRIN, Irsan mengatakan bila dirinya memiliki keyakinan dan harapan besar pada sosok Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu. Sebab dengan latar belakangnya sebagai seorang ekonom, lanjut Irsan, Bambang pasti akan memastikan Iptek yang akan dihasilkan ke depan memiliki dampak pada pertumbuhan ekonomi dan inovasi industri Indonesia.

“Sebagai orang ekonomi, Pak Bambang Brodjonegoro sering menyebut peningkatan ekonomi, serta pentingnya iptek dan inovasi untuk kemajuan bangsadalam pidatonya. Karenanya saya merasa cukup ada harapan untuk produk riset ke depan yang lebih bisa digunakan untuk industri dan masyarakat Indonesia ke depan,” pungkasnya. (**)

News

Pertemuan Multilateral Akan Bahas Facing Global Disruption di Jakarta

December 6, 2019

Jakarta, 6 Desember 2019 – Generasi muda saat ini mengalami perubahan dalam yang sangat cepat dalam kehidupan mereka. Kemajuan teknologi yang makin tak terbendung, membuat mereka harus cepat beradaptasi dengan segala perubahan zaman. Untuk itu, diperlukan sebuah roadmap untuk mereka menghadapi masa depan yang berkembang dan berkelanjutan.

Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh Global Shaper Survey dari World Economic Forum, menyebut setidaknya ada 10 masalah paling serius bagi generasi muda, antara lain perubahan iklim, konflik skala besar, ketidaksetaraan, kemiskinan, konflik agama, korupsi, ketersediaan pangan dan air, kurangnya pendidikan, keselamatan dan kurangnya lapangan kerja. Penelitian ini dilakukan pada lebih dari 31 ribu anak berusia 18-35 tahun di 186 negara dunia.

Dari kegalauan dan ketidakpastian tersebut, diperlukan adanya forum yang bisa menghubungkan generasi muda yang ada di kawsan Timur Tengah, Afrika Utara dan ASEAN dengan ahli dunia. Hal ini untuk memberikan gambaran dan solusi dalam menghadapi gangguan global.

“Topik-topik utama yang akan didiskusikan meliputi bidang Sains Teknologi dan Inovasi (STI), yang menyediakan solusi tujuan pengembangan berkelanjutan lewat keuangan dan perbankan Islam, mendorong pemasukan dan keberlanjutan lewat solusi wakaf, bisnis, modal usaha, dan untuk pemberdayaan gender dan kaum muda, peran sains dalam biologi baru dan bioteknologi, Kecerdasan Buatan (AI) dan revolusi teknologi informasi komunikasi, dan kebijakan berkelanjutan untuk hutan, agrikultur, dan ketahanan pangan. Ini semua merupakan inti untuk mendapatkan tujuan pembangunan berkelanjutan di masa depan,’ kata Ketua Forum Meeting of Minds dan sekaligus CEO Grup Syailendra Asia Salina Nordin.

Acara Forum Meeting of Minds merupakan acara pertemuan multilateral yang akan membicarakan permasalahan dunia dengan mengambil tema “Facing Global Disruption”. Pembicara yang hadir pun berasal dari beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, Arab Saudi, Denmark dan beberapa negara lain.

Selain Ismail Serageldine, beberapa pembicara yang akan mengisi acara Forum Meeting of Minds antara lain Penerima Nobel Sir Tim Hunt, CEO Dubai Islamic Bank Adnan Chilwan, Mantan Menteri Pendidikan Tinggi, Riset Ilmiah dan Teknologi Mesir Sekretaris Jenderal Asosiasi Arab Universitas Amr Ezzat Salama, Penasihat Ilmu Senior, Hukum OFW dan mantan Presiden American Association for the Advancement of Science (AAAS) Nina Fedoroff, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi/Kepala BRIN Bambang Brojonegoro, Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Badan Pengelola Keuangan Haji Anggito Abimanyu, Presiden Direktur BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo, serta banyak pembicara lainnya.

Forum Meeting of Minds akan dilangsungkan selama 2 hari yaitu pada 11 dan 12 Desember 2019 di The Tribrata, Jalan Darmawangsa III No.2, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Presiden RI Joko Widodo direncanakan akan membuka acara di hari pertama dan Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin akan membuka acara hari kedua.

Pemilihan Indonesia menjadi tuan rumah forum ini tidak lepas dari bonus demografis yang akan dihadapi. Karena 60 persen penduduk Indonesia berumur di bawah 35 tahun. Indonesia juga disebut memiliki demokrasi yang hidup dan salah satu yang paling cepat berkembang. Selain itu, Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang kaya dan punya masa depan yang pada modal sumber daya manusia serta kemampuan negara untuk menginspirasi pemberdayaan anak muda. Oleh karena itu, Indonesia merupakan ujian dan teladan bagi masa depan.

News

Presiden Ingatkan Nasabah Mekaar untuk Jaga Kepercayaan

December 6, 2019

Presiden Joko Widodo meninjau program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) binaan BUMN Permodalan Nasional Madani (PNM) di Alun-Alun Kota Cilegon, Provinsi Banten, Jumat, 6 Desember 2019.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengingatkan para nasabah Mekaar agar menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka, berupa pinjaman tanpa agunan.

“Kalau diberi Rp2 juta bisa dipercaya, tahun depan naik level jadi Rp6 juta, Rp8 juta, naik terus. Sekali lagi ibu-ibu dipercaya,” kata Presiden.

“Kalau dipercaya harus lebih hati-hati, jangan sampai kita dipercaya, kita belok-belok. Kalau orang sudah tidak dipercaya, mengembalikan kepercayaan itu sulit,” imbuhnya.

Untuk itu, Presiden mengingatkan agar nasabah Mekaar disiplin dalam membayar angsurannya. Untuk meringankan cicilan tersebut, Presiden menganjurkan para nasabah agar menyisihkan keuntungannya setiap hari.

“Misalnya ngangsurnya hari Senin, ya Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu sudah mulai menyisihkan untuk ditabung,” ujarnya.

Kepala Negara juga mengingatkan para nasabah Mekaar agar menggunakan seluruh uang pinjamannya untuk modal kerja atau modal usaha. Menurutnya, jika nasabah sudah dapat keuntungan dan sebagian sudah dibayarkan cicilan, sisanya bisa ditabung.

“Nabung itu penting karena kita punya anak-anak kita yang sekolah. Suami kerja, kalau ada tambahan ibu-ibu akan lebih memperkuat ketahanan ekonomi keluarga kita,” jelasnya.

Di akhir sambutannya, Presiden menyampaikan harapan agar para ibu Mekaar bisa terus mengembangkan usahanya hingga “naik kelas” menjadi nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Dari pinjaman itu harus menetas dan besar. Kalau ibu-ibu sudah mentok di PNM Mekaar, mentok di 10 juta, akan dipindah ke BRI, diarahkan ke BRI sehingga bisa naik ke 20 juta, 25 juta, hingga 500 juta,” tandasnya.

Turut mendampingi Presiden dalam acara ini antara lain, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dua Staf Khusus Presiden Gracia Billy Mambrasar dan Adamas Belva Syah Devara, dan Gubernur Banten Wahidin Halim.