BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (3/6/2026) ditutup melemah di level 5.941,07 atau turun 4,11%).
Tekanan pada IHSG, antara lain disebabkan oleh berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah sebesar 0,71% hingga menembus angka Rp 17.966 per Dolar AS. Di sisi lain, harga minyak yang kembali naik juga memicu kecemasan investor.
Meskipun laju inflasi masih dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) yaitu di kisaran 1,5% – 3,5%, jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, dikhawatirkan inflasi akan kembali meningkat. Akibatnya, potensi kenaikan BI Rate masih terbuka di tengah potensi kenaikan inflasi dan berlanjutnya depresiasi nilai tukar Rupiah. Tren kenaikan suku bunga juga berpotensi menjadi sentimen negatif bagi bursa saham.
Saat ini, investor juga cemas menantikan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Juni 2026, dimana MSCI akan mengumumkan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review, pada 18 Juni 2026, yang menilai akses pasar bagi investor internasional, serta MSCI 2026 Annual Market Classification Review, pada 23 Juni 2026 yang menentukan klasifikasi pasar saham suatu negara.
“Ada kekhawatiran adanya potensi penurunan peringkat utang Indonesia setelah Moody’s menetapkan peringkat PT Danantara Investment Management (DIM) pada Baa2 dengan prospek negatif,” demikian riset Phintraco Sekuritas.
S&P Global Ratings menetapkan peringkat kredit jangka panjang pada BBB dan peringkat jangka pendek di A-2 kepada DIM dengan outlook stabil. Secara teknikal, jika IHSG ditutup di bawah level 5.900, maka berpotensi akan menguji level support berikutnya di kisaran 5.750-5.840. (nov)


