BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat saat dolar Amerika Serikat (AS) perkasa terhadap mata uang dunia. Meski demikian rupiah diprediksi rawan koreksi jangka pendek.
Pada penutupan sesi I perdagangan sesi I hari ini, sekitar pukul 12:00 WIB, nilai tukar rupiah terpantau menguat 65 poin ke level Rp17.857 per dolar AS.
Sebelumnya pada awal perdagangan hari ini, kurs rupiah dibuka menguat 0,35% atau 63 poin menjadi Rp17.859 per dolar AS dibandingkan Rp17.922 per dolar AS pada akhir pekan lalu.
Penguatan rupiah terjadi saat dolar AS perkasa terhadap mata uang dunia. Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, indeks dolar AS menguat 0,51%.
Di pasar valuta asing (valas) kawasan Asia, rupiah dan Ringgit Malaysia mencatat penguatan signifikan terhadap dolar AS, ketika sebagian besar mata uang Asia justru melemah.
Ringgit Malaysia terpantau dibuka menguat 0,44% terhadap dolar AS, seiring langkah bank sentral negara itu memperkuat cadangan devisa, termasuk mempercepat pemulangan (repatriasi) dan konversi pendapatan luar negeri milik perusahaan asal Malaysia ke ringgit.
Meski rupiah dibuka menguat, pengamat memperkirakan pergerakannya rawan koreksi jangka pendek, terkait perkembangan konflik Timur Tengah dan rilis data ekonomi AS.
Kebijakan Bank Sentral AS atau Feredal Reserve (The Fed) yang cenderung hawkish, telah membuat indeks dolar AS terus menguat terhadap mata uang dunia, termasuk kawasan Asia.
Indeks dolar AS terus menguat sejak rapat Komite Pengambil Kebijakan atau Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed, yang mengindikasikan komitmen menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi menjadi 2%.
Hal itu, memicu prediksi The Fed akan menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) satu kali hingga dua kali di sisa tahun ini.
Untuk perdagangan hari ini, kurs rupiah diprediksi bergerak di kisaran level Rp17.800 per dolar AS hingga Rp17.900 poer dolar AS. (jea)


