Mayoritas Saham di Bursa Asia Naik, Harga Minyak Turun

BRIEF.ID – Mayoritas harga saham di bursa Asia naik pada perdagangan Rabu (15/4/2026) setelah harga minyak turun di tengah harapan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran  akan mencoba melakukan pembicaraan untuk mengakhiri perang mereka.

Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,4% pada perdagangan sore menjadi 58.122,52. Indeks S&P/ASX 200 Australia sedikit berubah, naik kurang dari 0,1% menjadi 8.978,70. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 2,1% menjadi 6.092,77. Indeks Hang Seng Hong Kong naik tipis 0,4% menjadi 25.980,69, dan Indeks Komposit Shanghai turun kurang dari 0,1% menjadi 4.023,40.

Di Wall Street, indeks S&P 500 naik 1,2% dari kenaikan hari sebelumnya, dan indeks yang menjadi inti dari banyak rekening 401(k) hanya 0,2% di bawah rekor tertingginya yang dicapai pada Januari.

Dow Jones Industrial Average naik 317 poin, atau 0,7%, dan Nasdaq composite naik 2%.

Pada Rabu (15/4/2026), harga minyak mentah acuan AS turun 58 sen menjadi US$ 90,70 per barel. Minyak mentah Brent naik 7 sen menjadi US$ 94,86, atau kurang dari 1% setelah turun 4,6% sehari sebelumnya. Meskipun masih di atas harga sekitar US$ 70 sebelum perang dimulai pada 28 Februari 2026, harga tersebut jauh di bawah level puncak US$ 119.

Harga minyak yang lebih rendah membantu menurunkan biaya untuk semua jenis bisnis. Tetapi beberapa analis mencatat bahwa perang masih berlangsung dan memperingatkan bahwa optimisme tersebut mungkin  tidak berdasar.

“Penurunan harga minyak mentah yang tidak lazim ini tampaknya didorong oleh meningkatnya harapan bahwa putaran kedua perundingan perdamaian antara Washington dan Teheran dapat segera terwujud, setelah upaya pertama gagal. Para pedagang jelas memilih untuk memperhitungkan kemungkinan de-eskalasi daripada realitas langsung pembatasan aliran,” kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.

Inflasi Meningkat

Negara-negara Asia bergantung pada akses ke Selat Hormuz, jalur air sempit yang merupakan jalur utama bagi minyak mentah yang diproduksi di wilayah Teluk Persia untuk mencapai pelanggan di seluruh dunia. Blokade di Selat Hormuz telah menghalangi minyak masuk ke pasar global, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harganya.

Inflasi global tahun ini diperkirakan akan meningkat menjadi 4,4% dari 4,1% pada tahun 2025, demikian  disampaikan Dana Moneter Internasional (IMF), yang sebelumnya memperkirakan inflasi akan melambat menjadi 3,8%. IMF pada Selasa (14/4/2026) juga menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% tahun ini dari 3,3% yang diperkirakan pada bulan Januari 2026.

Secara keseluruhan, S&P 500 naik 81,14 poin menjadi 6.967,38. Dow Jones Industrial Average naik 317,74 poin menjadi 48.535,99, dan Nasdaq Composite naik 455,35 poin menjadi 23.639,08.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Pemerintah AS (treasury yield) sedikit menurun karena penurunan harga minyak mengurangi tekanan inflasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun turun menjadi 4,25% dari 4,30% pada Senin (13/4/2026) malam.

Dalam perdagangan mata uang, dolar AS sedikit naik menjadi 158,95 yen Jepang dari 158,79 yen. Euro berharga US$ 1,1790, turun dari $1,1797. (Associated Press/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Walt Disney Mulai Melakukan PHK

BRIEF.ID – Konglomerat media massa dan hiburan multinasional Amerika...

IHSG Bertahan di Level 7.700 Meski Terseret Pelemahan Rupiah, Saham Pertambangan Jadi Penopang

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Rupiah Masih Betah di Level Rp17.100 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah masih betah di...

Harga Emas Antam Naik Lagi Dekati Level Rp2.900.000 per Gram, Ini Pemicunya

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...