BRIEF.ID – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar US$144,9 miliar, menyusut US$1,3 miliar dari US$146,2 miliar pada April 2026, sekaligus menandai penurunan selama 6 bulan berturut-turut.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan penurunan cadangan devisa sebesar US$1,3 miliar pada Mei 2026 disebabkan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah sepanjang Mei turun sebesar 3,12% dari Rp17.324 per dolar AS pada 11 Mei 2026 menjadi Rp17.883 per dolar AS per 31 Mei 2026.
Sepanjang tahun ini atau year-to-date (ytd), kurs rupiah Jisdor melemah sekitar 7,7% dari Rp16.748 per dolar AS pada awal Januari 2026 menjadi Rp18.039 per dolar AS pada awal Juni 2026.
Menurut dia, kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dilakukan sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, dan meningkatnya permintaan valuta asing (valas) musiman dari domestik.
“Faktor-faktor ini, yang membuat penurunan cadangan devisa terjadi, meski terdapat tambahan devisa yang berasal dari penerbitan global bond pemerintah, serta penerimaan pajak, dan jasa,” kata Denny dalam keterangan resmi, di Jakarta, Senin (8/6/2026).
BI menilai posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tetap kuat, karena setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
“Cadangan devisa sebesar US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026, dinilai mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Ramdan.
Dia mengungkapkan, BI meyakini bahwa ke depan, ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutur Ramdan.
Cadangan devisa per Mei 2026 yang turun sebesar US$1,3 miliar, menandai penurunan selama 6 bulan berturut-turut sejak akhir Desember 2026.
Dalam 6 bulan terakhir, cadangan devisa telah menyusut 7,41% atau US$11,6 miliar dari US$156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025 menjadi US$144,9 miliar per akhir Mei 2026. (jea)


