BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (8/6/2026), imbas penurunan cadangan devisa RI per Mei 2026.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah dibuka melemah 0,39% atau 71 poin menjadi Rp18.107 per dolar AS dari level sebelumnya Rp18.036 per dolar AS.
Hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, sekitar pukul 12:00 WIB, nilai tukar rupiah Jisdor terpantau terus melemah dan berada di level RpRp18.175 per dolar AS.
Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini sudah diprediksi seiring sentimen global kenaikan harga minyak dunia dan indeks dolar AS, yang dipicu memanasnya konflik Timur Tengah akibat serangan terbaru rudal Iran ke Israel.
Serangan rudal Iran ke Israel memicu kekhawatiran kesepakatan gencatan senjata di kawasan Timur Tengah akan gagal, serta membuat penutupan Selat Hormuz berkepanjangan, dan mengganggu pasokan energi global.
Harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan melonjak hingga 3,6% ke level US$96,47 per barel. Sedangkan indeks dolar AS melesat ke level 100,11.
Hal itu, mengguncang pasar keuangan kawasan Asia, dengan mayoritas mata uang melemah pada pembukaan perdagangan hari ini. Selain rupiah, Baht Thailand, Ringgit Malaysia, Dolar Taiwan, Peso Filipina, dan Yen Jepang dibuka melemah.
Meski demikian, pelemahan rupiah semakin diperparah oleh rilis data cadangan devisa per akhir Mei 2026, yang diumumkan Bank Indonesia (BI) hari ini.
BI melaporkan, cadangan devisa tercatat sebesar US$146,2 miliar, turun US$1,3 miliar dari US$146,2 miliar pada April 2026, sekaligus menandai penurunan selama 6 bulan berturut-turut.
Dalam 6 bulan terakhir, cadangan devisa telah menyusut 7,41% atau US$11,6 miliar dari US$156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025 menjadi US$144,9 miliar per akhir Mei 2026. (jea)


