IHSG Terpuruk ke Level 5.400, Saham Telkom Turun 11,96%

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpuruk ke level 5.400 pada perdagangan hari ini, Senin (8/6/2026).

Pelemahan IHSG masih dipicu tekanan jual terhadap saham-saham unggulan dan berkapitalisasi besar atau big caps, salah satunya saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang turun sebesar 11,96%.

Pada awal sesi I perdagangan saham hari ini, IHSG dibuka melemah 1,94% atau 108,46 poin ke level 5.486. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 merosot 2,16% atau 12,06 poin ke posisi 545,69.

IHSG bergerak di zona merah hingga ditutup terkoreksi 2,87% atau 160,45 poin di level 5.434 pada akhir sesi I perdagangan, pukul 12:00 WIB. Sepanjang 3 jam perdagangan berlangsung, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 5.523, dan level terendah di 5.346.

Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 646 saham turun harga, 88 saham naik harga, dan 79 saham lainnya tidak mengalami penurunan harga atau stagnan.

Volume saham yang ditransaksikan mencapai 20,243 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.378.878 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp12,920 triliun.

Saham-saham di seluruh sektor mengalami tekanan jual, terutama saham-saham big caps seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dan PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Harga saham TLKM pada akhir sesi I perdagangan hari ini terpantau turun 11,96% atau Rp330 menjadi Rp2.430 per lembar, sedangkan SMGR terkoreksi 4,18% atau Rp65 menjadi Rp1.490 per lembar.

Sedangkan saham ASII turun 2,63% atau Rp120 menjadi Rp4.450 per lembar, sementara BBCA melemah 2,27% atau Rp115 menjadi Rp4.960. Hal ini sekaligus menandai harga saham BBCA di bawah level Rp5.000 per lembar.

Pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen dari dalam dan luar negeri. Perkembangan terakhir konflik Timur Tengah yang kembali memanas seiring sernagan terbaru rudal Iran ke Israel, telah memicu kenaikan harga minyak dunia dan indeks dolar AS.

Harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan melonjak hingga 3,6% ke level US$96,47 per barel. Sedangkan indeks dolar AS melesat ke level 100,11. 

Hal itu, memicu kehawatiran krisis energi global akan berkepanjangan, dan menimbulkan lonjakan inflasi, sehingga bank-bank sentral akan semakin memperketat kebijakan moneter, termasuk menaikan suku bunga acuan.

Selain itu, pelemahan IHSG semakin diperparah oleh rilis data cadangan devisa per akhir Mei 2026, yang diumumkan Bank Indonesia (BI) hari ini.

BI melaporkan, cadangan devisa tercatat sebesar US$146,2 miliar, turun US$1,3 miliar dari US$146,2 miliar pada April 2026, sekaligus menandai penurunan selama 6 bulan berturut-turut.

Dalam 6 bulan terakhir, cadangan devisa telah menyusut 7,41% atau US$11,6 miliar dari US$156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025 menjadi US$144,9 miliar per akhir Mei 2026. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Melemah ke level Rp18.175 per Dolar AS Imbas Penurunan Cadangan Devisa RI

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar...

Cadangan Devisa Indonesia Menyusut US$1,3 Miliar pada Mei 2026, Turun 6 Bulan Berturut-Turut

BRIEF.ID - Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa...

ENRG Lakukan Private Placement Saham Baru  

BRIEF.ID – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) akan...

Petenis Jerman Alexander Zverev, Juara Tunggal Putra Grand Slam Prancis Terbuka 2026

BRIEF.ID – Servis petenis asal Jerman, Alexander Zverev tetap...