BRIEF.ID – Harga minyak dunia anjlok hampir 5% pada perdagangan Asia, Senin (3/8/2026), menyentuh level terendah dalam tiga pekan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan dimulainya kembali negosiasi dengan Iran dan membatalkan rencana serangan militer terhadap negara tersebut.
Pada pukul 00.46 GMT atau pukul 07.46 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak Oktober turun 4,8% menjadi US$ 83,68 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 4,9% menjadi US$ 80,50 per barel.
Kedua kontrak masih mencatatkan kenaikan lebih dari 20% sepanjang Juli, setelah sempat terdorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Trump pada Minggu (2/8/2026) mengatakan telah membatalkan rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran setelah Teheran dan sejumlah negara di kawasan meminta kesempatan untuk menempuh jalur diplomasi.
Pembicaraan antara Washington dan Teheran akan dimulai pada Senin waktu setempat dengan fokus pada pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz serta upaya memastikan Iran menghentikan ambisi pengembangan program nuklirnya.
Prospek dimulainya kembali negosiasi dipandang meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk, sehingga memicu aksi jual di pasar minyak.
Pekan lalu, harga minyak sempat melonjak tajam setelah konflik di Timur Tengah meluas dan meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi serta jalur pelayaran internasional.
Kelompok-kelompok yang didukung Iran dilaporkan melancarkan serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Di saat yang sama, serangan juga menghantam kapal pengangkut gas alam di Pelabuhan Damietta, Mesir, serta mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah.
Eskalasi konflik tersebut sempat mengangkat harga minyak Brent menembus US$90 per barel, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kemungkinan terganggunya distribusi energi global.
Perubahan sikap Washington yang kembali mengedepankan diplomasi memberikan harapan bahwa ketegangan dapat diredakan, sehingga premi risiko geopolitik di pasar minyak mulai menyusut dan harga kembali terkoreksi. (Investing.com/nov)


