BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak variatif pada perdagangan awal pekan, Senin (3/8/2026), seiring investor mencermati rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.
Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, IHSG terpantau melemah tipis 0,03% atau 1,83 poin ke level 6.234. Padawal di awal perdagangan hari ini, IHSG dibuka menguat 0,59% atau 36,49 poin ke posisi 6.272.
Sepanjang sesi I perdagangan yang berakhir pada pukul 12:00 WIB, IHSG bergerak variatif hingga ditutup di zona merah, dengan menyentuh level tertinggi di 6.273, dan level terendah di 6.213.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 323 saham naik harga, 294 saham turun harga, dan 169 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan mencapai 23,096 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.391.121 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp7,686 triliun.
IHSG awalnya dibuka menguat seiring sentimen positif keputusan Amerika Serikat (AS) dan Iran ke perundingan damai untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.
Hal itu membuat harga minyak dunia melemah, karena investor mengalihkan investasi ke logam mulia emas, dan masuk ke pasar keuangan emerging market termasuk Indonesia.
Pada sesi pagi perdagangan hari ini, harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan global, anjlok hingga 4,7% ke level US$83,77 per barel. Sementara harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) turun di bawah US$81 per barel.
Meski demikian, pergerakan IHSG sangat volatile, karena investor mencermati rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, inflasi bulan Juli 2026 mencapai 2,88% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dibandingkan level 2,37% pada Juli 2025.
Menurut dia, inflasi terjadi pada seluruh komponen, dengan kenaikan terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau (0,87%), dan transportasi (0,62%).
BPS mencatat lonjakan inflasi tahunan per Juli 2026 terjadi di seluruh provinsi di Indonesia, dengan Papua Barat menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi sebesar 5,47%, dan inflasi terendah tercatat di Papua Selatan sebesar 1,46%.
Sementara itu, Neraca perdagangan Indonesia juga mencatat defisit sebesar US$450 juta pada Juni 2026. Angka tersebut membaik atau turun dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Hal ini menandai defisit neraca perdagangan RI selama dua bulan berturut-turut, setelah sebelumnya selalu membukukan surplus selama 72 bulan dalam 6 tahun terakhir.
Ateng mengungkapkan, defisit neraca perdagangan Juni 2026 terutama disebabkan komoditas minyak dan gas (migas), yang mengalami defisit US$3,49 miliar, dengan komoditas utama penyumbang defisit adalah hasil minyak dan minyak mentah.
Untuk perdgaangan hari ini, IHSG diprediksi bergerak vaiatif dengan kecenderungan menguat tipis di kisaran level support 6.200 hingga level resistnace 6.300. (Jea)


