Jumlah Penumpang Transportasi Pada Juni 2026 Tembus 49 Juta, Kereta Api & ASDP Jadi Motor Penggerak Utama

BRIEF.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi merilis laporan perkembangan angkutan penumpang nasional untuk periode Juni 2026.

Berdasarkan data yang dirilis pada Senin (3/8/2026), aktivitas mobilitas masyarakat menunjukkan tren pemulihan yang kuat. Keberangkatan penumpang pada bulan Juni tercatat mengalami peningkatan secara bulanan maupun tahunan di hampir seluruh moda transportasi, kecuali angkutan udara domestik.

Secara akumulatif, moda angkutan kereta api mendominasi volume mobilitas nasional dengan mencatatkan angka fantastis mencapai 49,54 juta orang pada Juni 2026. Angka ini mengalami pertumbuhan positif sebesar 5,49% secara month to month (m-to-m) dan melesat 8,61% secara year on year (y-on-y) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 45,61 juta orang.

Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, memaparkan bahwa pertumbuhan mobilitas pada bulan Juni ini didorong oleh tingginya aktivitas perjalanan darat, penyeberangan, serta laut seiring dengan momentum liburan dan penguatan ekonomi domestik.

“Secara umum, kinerja keberangkatan penumpang pada bulan Juni 2026 menunjukkan tren peningkatan yang positif pada hampir seluruh moda transportasi, baik secara bulanan maupun tahunan. Khusus untuk angkutan berbasis darat seperti kereta api dan penyeberangan ASDP, pertumbuhan ini mencerminkan tingginya mobilitas domestik masyarakat yang semakin solid,” tutur Ateng.

Data BPS mencatat rincian perkembangan keberangkatan penumpang menurut moda transportasi pada Juni 2026 adalah sebagai berikut:

  1. Angkutan Kereta Api:
    Mencapai 49,54 juta orang (naik 5,49% m-to-m dan 8,61% y-on-y). Lonjakan ini ditopang oleh tingginya volume penumpang Jabodetabek, KRL, lintas non-Jabodetabek, LRT, MRT, hingga Kereta Cepat Whoosh.
  2. Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP):
    Mencatat total 4,96 juta orang, tumbuh tinggi sebesar 10,05% secara m-to-m dan 2,42% secara y-on-y. Pelabuhan utama seperti Merak (Banten) dan Bakauheni (Lampung) menjadi titik konsentrasi kepadatan tertinggi
  3. Angkutan Laut Domestik:
    Mengalami lonjakan bulanan tertinggi di antara seluruh moda, yakni meroket 17,03% m-to-m menjadi 2,98 juta orang (dari 2,55 juta pada Mei 2026), serta tumbuh 8,71% secara y-on-y. Pelabuhan Tanjung Perak dan Makassar mencatatkan trafik yang sangat sibuk.
  4. Angkutan Udara Internasional:
    Tumbuh stabil dengan mencatatkan 1,68 juta orang (naik tipis 1,59% m-to-m dan 1,16% y-on-y), didominasi oleh pergerakan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta (704,3 ribu orang) dan Ngurah Rai Bali (650,0 ribu orang).

Di sisi lain, dinamika berbeda terjadi pada sektor penerbangan domestik. Angkutan udara domestik menjadi satu-satunya moda yang mengalami kontraksi secara tahunan (y-on-y turun 6,12%), meskipun secara bulanan (m-to-m) berhasil rebound sebesar 14,15% dengan total 4,69 juta orang atau meningkat dari 4,11 juta pada Mei 2026.

Lima bandara utama yang memegang porsi terbesar meliputi Soekarno-Hatta (1,28 juta orang), Juanda Surabaya (409,4 ribu orang), dan Ngurah Rai Bali (329,9 ribu orang).

Menanggapi hal tersebut, Ateng Hartono menjelaskan bahwa koreksi tahunan pada angkutan udara domestik perlu dicermati lebih lanjut sebagai bagian dari proses penyesuaian pola perjalanan masyarakat serta faktor tarif tiket penerbangan.

“Meskipun secara bulanan angkutan udara domestik mengalami pemulihan sebesar 14,15%, secara tahunan masih tercatat terkoreksi 6,12%. Hal ini menunjukkan bahwa pola preferensi mobilitas masyarakat dan penyesuaian harga tiket masih menjadi variabel penting dalam dinamika penerbangan domestik kita saat ini,” kata Ateng.

Dengan tren positif pada sektor kereta api, ASDP, dan angkutan laut, BPS memproyeksikan stabilitas mobilitas masyarakat akan terus berlanjut seiring dengan pergerakan roda ekonomi nasional pada paruh kedua tahun 2026. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

BPS: Indonesia Alami Deflasi 0,14 Persen pada Juli 2026

BRIEF.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia...

Defisit Neraca Perdagangan Indonesia Berlanjut, Capai US$450 Juta di Juni 2026

BRIEF.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan defisit neraca...

Inflasi Indonesia 2,88% di Juli 2026, Kontributor Utama Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau

BRIEF.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia...

IHSG Awal Pekan Bergerak Variatif, Investor Cermati Data Inflasi dan Neraca Perdagangan

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...