BRIEF.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2026 secara tahunan atau year on year (yoy) mencapai 2,88%. Angka tersebut, lebih tinggi dari inflasi tahunan pada Juli 2025 sebesar 2,37%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kontributor utama inflasi Juli 2026 terutama dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Inflasi tahunan terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,87%, diikuti kelompok transportasi 0,62%, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,61%,” kata Ateng dalam rilis BPS, di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Menurut dia, inflasi terjadi pada seluruh komponen sepanjang Juli 2026, baik pada komponen inti, komponen harga yang diatur pemerintah, maupun komponen harga bergejolak.
Dia menjelaskan, komponen inti menjadi penyumbang terbesar dengan andil mencapai 1,76%. Selanjutnya komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) menyumbang 0,70%, dan komponen harga bergejolak (volatile food) memberi andil 0,42%.
“Inflasi inti dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas dan jasa, antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, serta biaya akademi atau perguruan tinggi,” tutur Ateng.
Dia mengungkapkan, seluruh wilayah mengalami inflasi pada Juli 2026, di mana Papua Barat menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi 5,47%, dan Papua Selatan menjadi provinsi dengan inflasi terendah 1,46%.
Meskipun mengalami kenaikan secara bulanan, inflasi Indonesia pada Juli 2026 masih tetap terkendali di bawah target Bank Indonesia (BI), yakni 2,5% ± 1%.
Berikut beberapa catatan data inflasi Indonesia Tahun 2026 yang diumumkan BPS hari ini, Senin (3/8/2026):
– Inflasi tahunan (YoY) Juli 2026 tercatat 2,88%, meningkat dari 2,37% pada Juli 2025, namun masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 2,5% ± 1%.
– Secara bulanan, Indonesia mengalami deflasi 0,14% (MoM), sementara inflasi tahun kalender (YtD) tercatat 1,83%.
– Pendorong utama inflasi berasal dari kelompok Makanan, Minuman & Tembakau (0,87%), diikuti Transportasi (0,62%) serta Perawatan Pribadi & Jasa Lainnya (0,61%).
– Berdasarkan komponennya, inflasi didominasi oleh Inflasi Inti (1,76%), disusul Harga Diatur Pemerintah (0,70%) dan Volatile Food (0,42%), menunjukkan tekanan harga masih relatif terkendali.
– Inflasi yang tetap berada di bawah target BI memberikan ruang bagi stabilitas kebijakan moneter, meski risiko kenaikan harga energi dan pangan global masih perlu diwaspadai. Bank Permata memproyeksikan inflasi Indonesia mencapai 3,13% pada akhir 2026. (Jea)


