BRIEF.ID – Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan akan mengintensifkan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mencapai kesepakatan perdagangan komprehensif. Di sisi lain, Ottawa menegaskan siap mengambil langkah balasan jika tarif impor sebesar 50% yang diancamkan Presiden Donald Trump diberlakukan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memberikan penundaan selama tiga hari tarif 50% atas sekitar US$20 miliar produk Kanada untuk memberi kesempatan kepada kedua negara menyelesaikan perundingan. Pemerintah Kanada menyebut telah terjadi kemajuan signifikan, meski masih terdapat sejumlah persoalan yang harus diselesaikan.
Carney mengatakan Kanada tidak perlu mengambil tindakan sebelum tarif itu benar-benar diberlakukan. Menurutnya, respons terlalu dini justru dapat menghambat proses negosiasi.
“Segala opsi terbuka” apabila kesepakatan tidak tercapai, ujar Carney setelah bertemu dengan para pemimpin provinsi dan wilayah Kanada.
Tarif yang direncanakan AS mencakup beragam produk, termasuk madu, minuman keras, semen, produk susu, kayu, tongkat hoki, dan sejumlah barang konsumsi lainnya. Produk energi, potas, ikan, dan mineral kritis dikecualikan dari tarif itu.
Langkah Balasan
Carney menilai ancaman tarif tinggi dapat menjadi bagian dari strategi negosiasi Washington. Ia mengatakan AS dalam sejumlah perundingan perdagangan sebelumnya kerap menggunakan tenggat waktu yang disertai ancaman tarif sebagai tekanan untuk mencapai kesepakatan.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan perundingan akhirnya gagal mencapai kesepakatan. Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, AS memberlakukan tarif 50% terhadap sekitar US$20 miliar produk Kanada setelah kedua negara tidak berhasil menyelesaikan kesepakatan. Kanada kemudian menyatakan akan menerapkan tarif balasan “dollar for dollar” dan menangguhkan perundingan lebih lanjut.
Kegagalan ini meningkatkan ketegangan perdagangan antara dua negara yang memiliki hubungan ekonomi sangat erat dan berpotensi mempersulit renegosiasi USMCA, perjanjian perdagangan yang juga melibatkan Meksiko.
Eskalasi ini menambah ketidakpastian bagi dunia usaha Amerika Utara, khususnya sektor yang bergantung pada rantai pasok lintas batas AS-Kanada. (Reuters/AP/nov)


