BRIEF.ID – Bursa saham Asia bergerak beragam pada perdagangan Kamis (30/7/2026). Pasar Korea Selatan dan Jepang berhasil pulih dari tekanan tajam pada awal pekan, sementara investor masih mencermati keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) serta laporan keuangan emiten teknologi.
Sentimen pasar regional cenderung berhati-hati setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya, namun belum memberikan sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan moneter pada pertemuan berikutnya.
Di sisi lain, kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Asia. Penguatan dipimpin Nasdaq 100 Futures, yang terdorong oleh kinerja keuangan Microsoft yang lebih baik dari ekspektasi pasar.
Namun, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta lonjakan harga minyak dunia.
Pasar Korea Selatan menjadi salah satu yang mencatat pemulihan terbesar. Indeks Kospi melonjak sekitar 3% setelah investor kembali memburu saham-saham semikonduktor yang sebelumnya terkoreksi tajam akibat aksi ambil untung.
Sebelumnya, Kospi merosot hampir 17% hanya dalam dua sesi perdagangan, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi saham-saham yang diuntungkan oleh tren kecerdasan buatan (AI).
Pemulihan didukung oleh laporan keuangan Samsung Electronics, yang membukukan lonjakan pendapatan Kuartal II-2026. Laba operasi divisi semikonduktor perusahaan melonjak lebih dari 250 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong permintaan yang tetap kuat terhadap high-bandwidth memory (HBM), jenis chip memori berkecepatan tinggi yang banyak digunakan pada server AI.
Merespons laporan tersebut, saham Samsung melonjak sekitar 8%, sedangkan saham SK Hynix menguat sekitar 2%.
Meski demikian, pelaku pasar masih mewaspadai prospek sektor teknologi. Investor mempertanyakan apakah belanja modal (capital expenditure/capex) yang terus meningkat untuk pengembangan AI oleh perusahaan-perusahaan teknologi global akan mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang sepadan dalam jangka panjang. Kekhawatiran tersebut diperkirakan masih akan membayangi pergerakan saham-saham teknologi di kawasan Asia dalam waktu dekat. (Investing.com/nov)


