BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah bergerak fluktuatif, dan berpotensi menguat terbatas pada perdagangan hari ini, dipicu pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) seiring keputusan Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga acuan.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka melemah tipis 0,01% atau 2 poin menjadi Rp18.075 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp18.073 per dolar AS.
Seiring jalannya perdagangan, rupiah perlahan bergerak menguat terhadap dolar AS. Hingga pukul 10:30 WIB, kurs rupiah Jisdor terpantau berada di level Rp18.065 per dolar AS, menguat 8 poin dibandingkan level Rp18.073 pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026).
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah membuka perdagangan hari ini, dengan menyusut 0,08% ke level Rp18.069 per dolar AS, kemudian perlahan berbalik arah ke zona hijau.
Penguatam rupiah dipicu keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) di kisaran 3,50% hingga 3,75%.
Hal itu, membuat indeks dolar AS melemah terhadap enam mata uang utama dunia, dengan terpangkas 0,52% ke level 100.88 pada penutupan perdagangan kemarin. Di sesi pagi perdagangan hari ini, indeks dolar AS dibuka terapresiasi 0,02% ke level 100,9.
Hal serupa juga terjadi pada harga minyak dunia
jenis Brent yang sempat menguat ke level US$91 per barel pada penutupan perdagangan kemarin, namun kembali melemah 1,18% menjadi US%89,67 per barel pada perdagangan hari ini.
Pergerakan rupiah yang menguat tipis mengindikasikan investor berupaya mencetak keuntungan (profit taking) dengan memanfaatkan momen ditahannya suku bunga The Fed.
Ke depan, rupiah masih rawan koreksi, seiring sorotan investor terhadap risiko pelebaran defisit neraca perdagangan, dan defisit fiskal, lantaran masih berada di atas harga rata-rata yang ditetapkan sebagai asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Selain itu, investor juga mencermati perubahan pucuk pimpinan Bank Indonesia (BI), dan mengamati sejauh mana intervensi pemerintah terhadap independensi bank sentral.
Hal itu, telah tercermin dari pasar Surat Utang Negara (SUN), yang imbal hasilnya (yield) terpangkas hari ini. Melansir data Bloomberg, penurunan yield terlihat menjadi lebih terbatas, dengan yield tenor 1 tahun hanya turun 1 bps menjadi 7,02%, dan tenor acuan 10 tahun turun 0,8 bps menjadi 7,31%.
Untuk perdagangan hari ini, kurs rupiah diprediksi berpeluang menguat terbatas dengan bergerak di kisaran level Rp18.000 per dolar AS hingga Rp18.100 per dolar AS. (Jea)


