BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah offshore ambruk ke level Rp17.800 pada perdagangan hari ini, Selasa (26/5/2026), imbas memanasnya kembali konflik Timur Tengah.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah ditutup melemah 0,26% ke level Rp17.789 per dolar AS, yang merupakan level terlemah sepanjang masa. Sebelumnya, rupiah dibuka melemah ke level Rp17.749 per dolar AS.
Sementara rupiah offshore (di pasar luar negeri), justru terpantau menyentuh level psikologi Rp18.800 per dolar. Hingga pukul 17:30 WIB, kurs rupiah sesuai data Morningstar diperdagangankan di level Rp17.855 per dolar AS.
Pelemahan rupiah hari ini, menandai keterpurukan mata uang Garuda selama 4 hari perdagangan berturut-turut, sejak Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,25% pada pekan lalu.
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi pergerakan harga minyak dunia, yang kembali melonjak setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terbaru ke lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di wilayah selatan Iran.
Kabar tersebut, membuat harga minyak dunia kembali melonjak. Harga minyak dunia jenis Brent melesat 3,22% ke level US$99,33 per barel, setelah sempat merosot 7% pada perdagangan Senin (25/5/2026).
Serangan militer AS ke wilayah Iran mengaburkan prospek perdamaian kedua negara, dan memupuskan harapan dibukanya kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Meski demikian, AS menegaskan gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku. Sampai saat ini, belum ada respons dari otoritaas Iran terkait serangan AS tersebut.
Hal ini, membuat ketidakpastian global semakin tinggi, sehingga investor cenderung menarik aset di pasar keuangan negara-negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia, yang ditandai dengan melemahnya bursa saham dan nilai tukar. (jea)


