BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup jatuh di zona merah pada perdagangan hari ini, Selasa (26/5/2026).
Pelemahan IHSG terutama dipicu tekanan jual saham-saham unggulan berkapitalisasi besar, antara lain PT Astra International Tbk (ASII), dan 4 bank besar, yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Pada akhir perdagangan hari ini, IHSG ditutup melemah 1,23% atau 76,15 poin di level 6.130. Sebelumnya, IHSG dibuka turun tipis 0,07% atau 4,54 poin di level 6.201.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak variatif dengan kecenderungan tertekan ke zona merah, sempat menyentuh level tertinggi di 6.286, dan level terendah di 6.124.
Data perdagangan BEI hari ini menunjukkan sebanyak 447 saham turun harga, 241 saham naik harga, dan 133 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan tercatat mencapai 24,882 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.964.477 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp18,098 triliun.
Pada sesi I perdagangan, IHSG sempat bergerak menguat ke zona hijau seiring aksi beli terhadap sejumlah saham unggulan, antara lain PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Meski demikian, tekanan jual terhadap saham Astra dan 4 bank besar di sesi II perdagangan, membuat IHSG akhirnya terpuruk ke zona merah hingga penutupan perdagangan.
Harga saham ASII anjlok 8,48% atau Rp475 menjadi Rp5.125 per lembar. Sedangkan saham 4 bank besar terkoreksi antara 1% hingga 3%.
Adapun harga saham BBRI jatuh 3,15% atau Rp100 menjadi 3.070per lembar, BMRI terpangkas 2,13% atau Rp90 menjadi RTp4.130 per lembar, BBCA turun 2,5% atau Rp125 menjadi Rp5.975 per lembar, dan BBNI terkoreksi 1,29% atau Rp50 menjadiRp3.840 per lembar.
Pergerakan IHSG yang masih tertekan ke zona merah berbanding terbalik dengan mayorits bursa Asia yang menguat seiring kabar perundingan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menunjukkan kemajuan.
AS dan Iran dikabarkan telah sepakat membuka kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. Hal itu, membuat harga minyak turun hingga 7% pada perdagangan Senin (25/5/2026)
Meski demikian, perkembangan terbaru konflik Timur Tengah yang kembali memanas dan mengaburkan prospek perdamaian, membuat harga minyak kembali bergejolak hingga investor melanjutkan tekanan jual di pasar saham Indonesia untuk menghindari risiko emerging market (negara berkembang) di tengah ketidakpastian gobal saat ini. (jea)


