BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah bergerak menguat pdaa perdagangan akhir pekan, Jumat (10/7/2026), tapi masih bertengger di level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data transaksi antarbak di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka menguat 0,35% atau 63 poin menjadi Rp18.065 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp18.128 per dolar AS.
Hingga akhir sesi pagi perdagangan, sekitar pukul 12:00 WIB, penguatan kurs rupiah Jisdor perlahan terkikis, dan terpantau berada di level Rp18.075 per dolar AS.
Sementara nilai tukar rupiah di pasar spot, yang sempat dibuka melemah ke level Rp18.085 per dolar AS, perlahan menguat ke level Rp18.058 per dolar AS.
Meski bergerak menguat, kurs rupiah masih belum mampu ke luar dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Padahal indeks dolar AS hari ini terkoreksi 0,02% ke level 100,88. Selain itu, harga minyak dunia jenis Brent juga turun ke level US$76 per barel.
Hal ini menunjukkan sentimen negatif dari dalam negeri masih menekan rupiah, sehingga tak mampu menguat ketika tekanan sentimen global berkurang.
Sejumlah data ekonomi yang dirilis pekan ini masih menjadi sorotan investor, karena menunjukkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai lesu alias melambat.
Dengan demikian, penopang penguatan rupiah hari ini lebih karena intervensi pemerintah, terutama pembelian Surat Utang Negara (SUN) oleh Perhimpunan Bank-Bank Milik Negara atau (Himbara).
Pembelian SUN oleh bank-bank Himbara membuat imbal hasil (yield) yang sempat melonjak lebih terkendali dan bergerak konsolidatif.
Pada perdagangan hari ini, yield SUN tenor 1 tahun kembali ke level 7.06% setelah sempat bertengger di level 7,4% pada penutupan perdagangan Kamis (9/7/2026). Sementara yield SUN tenor 10 tahun yang menjadi acuan bergerak konsolidatif di kisaran 7,25% -7.35%.
Terkait dengan itu, nilai tukar rupiah hari ini berpeluang menguat terbatas di kisaran level Rp18.050 per dolar AS hingga Rp18.150 per dolar AS. (Jea)


