BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (6/8/2026), didorong optimisme tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.
Berdasarkan data transaksi antarbank atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah hari ini dibuka menguat 0,12% atau 22 poin menjadi Rp17.911 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.933 per dolar AS.
Hingga pukul 11:00 WIB, rupiah masih menguat, dan terpantau berada di level Rp17.917 per dolar AS, naik 0,08% atau 16 poin dibandingkan posisi Rp17.933 per dolar AS, pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026).
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah terpantau menguat di level Rp17.913 per dolar AS, setelah sempat terpeleset ke level Rp17.933 pada awal perdagangan hari ini.
Penguatan rupiah ditopang kabar telah tercapainya kesepakatan antara Iran dan Oman terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz. Hal ini, mendorong optimisme bahwa AS dan Iran juga akan mencapai kesepakatan perdamaian sementara.
Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan kesepakatan perdamaian sementara dengan Iran untuk membuka Selat Hormuz akan tercapai paling lambat hari ini.
Hal itu, mendorong harga minyak dunia turun di bawah level US$80 per barel, begitu juga indeks dolar AS yang meninggalkan level 100, sehingga menjadi angin segar bagi pasar keuangan emerging market, termasuk Indonesia.
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia juga dibuka menguat pada perdagangan hari ini, antara lain Won Korea Selatan, Baht Thailand, Dolar Taiwan, Ringgit Malaysia, Peso Filipina, Yen Jepang, dan Dolar Singapura.
Meski demikian, penguatan rupiah diprediksi terbatas, seiring sikap investor yang masih berhati-hati, karena menunggu rilis data cadangan devisa, pada Jumat (7/8/2026).
Sebagai informassi, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 sempat bertambah ke level US$145,6 miliar dari posisi US$144,9 miliar pada Mei 2026.
Konsensus pasar memperkirakan cadangan devisa per Juli 2026 akan mengalami defisit, seiring keperluan pembayaran bunga utang luar negeri Indonesia, baik pemerintah maupun swasta.
Jika cadangan devisa kembali meningkat pada Juli 2026, maka akan menjadi penopang bagi stabilitas nilai tukar rupiah, sehingga Bank Indonesia tak perlu agresif melakukan interfensi untuk menstabilkan nilai tukar mata uang Garuda.
Untuk perdagangan hari ini, kurs rupiah diprediksi bergerak menguat terbatas di kisaran level Rp17.900 per dolar AS hingga Rp18000 per dolar AS. (Jea)


