IHSG Ditutup Stagnan di Sesi I Perdagangan Hari Ini Imbas Aksi Profit Taking

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup stagnan pada sesi I perdagangan Kamis (6/8/2026), imbas aksi profit taking (ambil untung) yang dilancarkan investor.

Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (6/8/2026), IHSG ditutup stagnan atau tidak mengalami perubahan di level 6.351. Sebelumnya pada awal perdagangan hari ini, IHSG dibuka menguat 0,45% atau 28,77 poin ke posisi 6.379.

Sepanjang 3 jam perdagangan berlangsung, IHSG terpantau bergerak variatif, dengan menyentuh level tertinggi di 6.388, dan level terendah di 6.324.

Volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan hari ini mencapai 34,721 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.633.303 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp10,367 triliun.

Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 333 saham turun harga, 274 saham naik harga, dan 184 saham mainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.

Meskipun lebih banyak saham yang turun harga, IHSG mampu bertahan seiring aksi borong selektif, yang dilancarkan investor terhadap saham-saham potensial, terutama di sektor keuangan dan properti.

Di sektor keuangan, 3 saham bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), naik tipis dan menopang IHSG.

Harga saham BMRI menguat 0,24% atau Rp10 menjadi Rp4.230 per lembar, BBNI melonjak 0,55% atau Rp20 menjadi Rp3.650 per lembar, dan BBRI naik 0,33% atau Rp10 menjadi Rp3.030 per lembar.

Sementara di sektor properti, saham-saham yang mencatat kenaikan harga, antara lain PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), dan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN).

Sebenarnya IHSG berpeluang menguat seiring sentimen positif dari dalam dan luar negeri, yang juga telah mendorong Bursa Wall Street dan mayoritas bursa kawasan Asia menguat.

Amerika Serikat (AS), Iran, dan Oman, dikabarkan tengah menyepakati kemungkinan membuka Selat Hormuz dalam waktu dekat, sehingga kekhawatiran terhadap konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan berpotensi memicu krisis energi global mulai mereda.

Kabar tersebut, membuat harga minyak dunia anjlok di bawah level US$80 per barel, begitu juga indeks dolar AS yang tertekan di bawah level 100.

Meski demikian, faktor luar negeri yang tekanannya mulai mereda, tak mampu membawa IHSG terus melaju di zona hijau, seiring aksi profit taking yang dilancarkan investor menjelang rilis data cadangan devisa, pada Jumat (7/8/2026).

Sebagai informassi, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 sempat bertambah ke level US$145,6 miliar dari posisi US$144,9 miliar pada Mei 2026.

Konsensus pasar memperkirakan cadangan devisa per Juli 2026 akan mengalami defisit, seiring keperluan pembayaran bunga utang luar negeri Indonesia, baik pemerintah maupun swasta.

Jika cadangan devisa kembali meningkat pada Juli 2026, maka akan menjadi penopang bagi stabilitas nilai tukar rupiah, sehingga Bank Indonesia tak perlu agresif melakukan interfensi untuk menstabilkan nilai tukar mata uang Garuda.

Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi bergerak menguat terbatas, dan menguji level support 6.330 dan level resistance 6.400. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

PSSI Setia Dukung Gianni Infantino Jadi Presiden FIFA

BRIEF.ID - Kursi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA terus...

Rupiah Menguat Terbatas Didorong Optimisme Kesepakatan Perdamaian AS-Iran

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terbatas terhadap...

Harga Emas Antam Melesat Rp50.000 Dipicu Kabar Selat Hormuz Segera Dibuka

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...

Jaga Daya Beli Masyarakat, Pemerintah Tunda Pungutan Pajak Melalui Marketplace  

BRIEF.ID – Pemerintah memutuskan menunda implementasi pemungutan Pajak Penghasilan...