BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah makin perkasa, dan berada di bawah level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (21/8/2026). Hal itu, merupakan imbas dari rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II 2026 yang diumumkan hari ini.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), hingga pukul 15:00 WIB, kurs rupiah berada di level Rp17.691 per dolar AS.
Angka tersebut menguat 0,32% atau 57 poin dibandingkan level sebelumnya Rp17.748 per dolar AS, pada penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026). Pada awal perdagangan hari ini, rupiah Jisdor dibuka stagnan di level Rp17.748 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah yang awalnya dibuka melemah tipis 0,03% ke level Rp17.752 per dolar AS, perlahan bebalik menguat hingga menyentuh level Rp17.715 per dolar AS.
Penguatan rupiah dipengaruhi sentimen positif rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2026, yang menunjukkan penyusutan defisit baik secara kuartalan atau quarter-to-quarter (qtq), dan secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan defisit NPI tercatat sebesar US$0,9 miliar pada kuartal II 2026.
Angka tersebut menyusut US$8,2 miliar (qtq) dibandingkan defisit NPI pada kuartal I 2026 sebesar US$9,1 miliar, dan menyusut US$5,8 miliar (yoy) dibandingkan defisit NPI pada kuartal II 2025 sebesar US$6,7 miliar.
Selain itu, penguatan rupiah juga dipengaruhi faktor ekstenal, yakni pelemahan indeks dolar AS ke level 98,76. Hal itu, dipicu aksi investor yang banyak melepas aset dolar AS, seiring membengkaknya defisit anggaran negara adi kuasa tersebut.
Departemen Keuangan AS mengumumkan defisit anggaran tercatat sebesar US$432,3 miliar pada Juli 2026. Defisit ini membengkak 48% atau US$141 miliar dibandingkan Juli 2025, dan menjadi defisit bulanan terbesar sejak Maret 2021.
Hal ini menjadikan aset berdenominasi dolar AS banyak dilepas, salah satunya US Treasury yang mengalami lonjakan imbal hasil atau yield sepanjang bulan ini.
Pudarnya pesona US Treasury, membuat investor kembali melirik pasar surat utang negara (SUN) emerging market, termasuk Indonesia. Hal itu, berimbas pada penurunan yield SUN tenor jangka pendek dan menengah.
Data perdagangan Bloomberg menunjukkan yield SUN tenor 1 tahun turun 2 bps ke 6,73%, diikuti tenor 2 tahun 11 bps ke 6,65%. Sedangkan tenor acuan 10 tahun juga turun 0,2 bps ke 7,02%.
Aksi beli investor di pasar SUN turut menopang penguatan rupiah sejak kemarin. Pada perdagangan hari ini, rupiah diprediksi menguji level di bawah Rp17.700, dengan bergerak di kisaran level Rp17.650 per dolar AS hingga Rp17.750 per dolar AS. (Jea)


