BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (21/8/2026), ditopang saham 4 bank besar, yang ramai diborong investor.
Pada akhir perdagangan saham hari ini, IHSG tercatat menguat 0,37% atau 24,10 poin ke level 6.525. Sebelumnya, IHSG dibuka menguat 0,35% atau 22,48 ke posisi 6.524.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG terus bergerak di zona hijau dengan menyentuh level tertinggi di 6.551, dan level terendah di 6.507.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 319 saham naik harga, 294 saham turun harga, dan 178 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang perdagangan akhir pekan tercatat mencapai 59,120 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 2.256.710 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp17,471 triliun.
Penguatan IHSG ditopang saham-saham sektor keuangan terutama saham 4 bank besar, yang banyak diborong investor, seiring masuknya modal asing (capital inflow) yang meninggalkan aset dalam dolar AS.
Pengumuman Departemen Keuangan AS terkait defisit anggaran yang membengkak, membuat investor banyak melepas US Treasury dan dolar AS. Imbasnya, imbal hasil atau yield US Treasury meningkat, sedangkan indeks dolar AS turun di bawah level 100.
Hal itu, justru menjadi angin segar bagi portofolio investasi di pasar keuangan emerging market termasuk Indonesia. Capital inflow masuk ke pasar Surat Utang Negara (SUN) begitu juga saham.
Alhasil banyak saham potensial diburu, terutama di sektor keuangan. Tercatat harga saham 4 bank besar, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melesat di atas kenaikan IHSG.
Harga saham BBCA terpantau naik 0,78% atau Rp50 menjadi Rp6.450 per lembar, BMRI melonjak 1,69% atau Rp70 menjadi Rp4.220 per lembar, BBRI melambung 2,87% atau Rp90 menjadi Rp3.230 per lembar, dan BBNI melesat 3,90% atau Rp140 menjadi Rp3.730 per lembar.
Penguatan IHSG juga ditopang sentimen positif dari dalam negeri, seiring rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), yang mengalami penyusutan defisit pada kuartal II 2026, baik secara tahunan atau year-on-year (yoy) maupun secara kuartalan atau quarter-to-quarter (qtq).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, mengatakan defisit NPI tercatat sebesar US$0,9 miliar pada kuartal II 2026.
Angka tersebut menyusut US$5,8 miliar (yoy) dibandingkan NPI pada kuartal II 2025 yang sebesar US$6,7 miliar, dan menyusut US$8,2 miliar (qtq) dibandingkan NPI pada kuartal I 2026 sebesar US$9,1 miliar.
Lonjakan IHSG pada hari ini, sekaligus menjadi kenaikan tiga hari berturut-turut, dan memperkuat posisi indeks acuan itu di level psikologis 6.500. (Jea)


