BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah jatuh lagi ke level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring lonjakan harga minyak dunia pada perdagangan Selasa (4/8/2026).
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah hari ini dibukan melemah 0,18% atau 32 poin menjadi Rp18.029 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.997 per dolar AS.
Sepanjang perdagangan, nilai tukar rupiah Jisdor terpantau terus tertekan terhadap dolar AS. Hingga pukul 12:00 WIB, kurs rupiah Jisdor terpantau berada di level Rp18.031 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, kurs rupiah membuka perdagangan hari ini dengan melemah 0,06% ke level Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah di pasar spot terus berlanjut hingga menyentuh level Rp18.023 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi imbas lonjakan harga minyak dunia, seiring kabar kelangkaan pasokan akibat penutupan kembali Selat Hormuz ketika AS dan Iran kembali saling serang pada Juli 2026.
Pada perdagangan hari ini, harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan global naik ke level US$84,39 per barel. Sedangkan harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat ke level US$80,95 per barel.
Seperti dilansir Kantor Berita Anadolu, harga minyak Brent melonjak sekitar 25 persen sepanjang bulan Juli 2026 setelah konflik Timur Tengah antara AS dan Iran kembali memanas, dan memperburuk pasokan energi yang melalui Selat Hormuz, dan Laut Merah.
Beberapa perusahaan minyak besar di AS, seperti Shell, Exxon, dan Chevron, memperkirakan harga bahan bakar di SPBU akan bertahan tinggi seiring kelangkaan pasokan, meskipun pergerakan harga minyak mentah di pasar berjangka kembali melandai.
Kabar mengenai kelangkaan pasokan minyak dunia, juga menjadi sentimen negatif bagi mayoritas mata uang Asia yang kembali tertekan terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.
Adapun mata uang Asia yang dibuka melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, antara lain Yen Jepang (-0,32%), disusul Baht Thailand, Dolar Singapura, Ringgit Malaysia, Yuan Tiongkok, dan Peso Filipina.
Sentimen negatif terhadap rupiah juga dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap defisit neraca perdagangan Indonesia yang berlanjut, seperti dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS).
Per Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$450 juta, dengan rincian nilai ekspor sebesar US$25,46 miliar, dan nilai impor mencapai US$25,91 miliar.
Defisit neraca perdagangan dipengaruhi kebutuhan untuk biaya impor yang meningkat, seiring pelemahan rupiah terhadap dolar imbas kenaikan harga minyak dunia.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi masih bergerak melemah terbatas di kisaran level Rp17.900 per dolar AS hingga Rp18.100 per dolar AS. (Jea)


