BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah jatuh ke level psikologis Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring proyeksi tingginya suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan hari ini, Rabu (24/6/2026), kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dibuka melemah 0,40% atau 72 poin ke level Rp17.931 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.859 per dolar AS.
Sementara nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka terkoreksi 0,39% ke posisi Rp17.915 per dolar AS. Hingga perdagangan sesi I ditutup atau sekitar pukul 12:00 WIB, kurs rupiah terpantau makin melemah Rp17.954 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu arah kebijakan moneter The Fed, yang semakin ketat dan akan dipertahankan hingga tahun depan. The Fed sendiri telah menaikkan proyeksi suku bunga dana federal pada akhir 2026 menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,4%. Sementara proyeksi suku bunga The Fed Tahun 2027 dinaikkan menjadi 3,6% dari target semula 3,1%.
Hal itu, membuat indeks dolar AS tetap kuat terhadap enam mata uang utama dunia, dan masih bertahan di level 101,41. Sebaliknya, penguatan indeks dolar AS memicu pelemahan mata uang Asia.
Mata uang Asia yang dibuka melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, antara lain Baht Thailand, Peso Filipina, Dolar Taiwan, dan Won Korea Selatan pada perdagangan hari ini.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tren melemah, dan bergerak di kisaran Rp17.860 per dolar AS hingga Rp17.960 per dolar AS. (jea)


