OPEC+ Sepakat Menaikkan Produksi Minyak 188.000 Barel per Hari, Mulai September

BRIEF.ID – Tujuh anggota utama aliansi OPEC+ sepakat meningkatkan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari, mulai September 2026 sebagai bagian dari langkah bertahap untuk menyesuaikan kembali pemotongan produksi sukarela yang telah diterapkan sejak 2023.

Keputusan itu diambil dalam pertemuan virtual yang dihadiri Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman pada Minggu (2/8/2026). Pertemuan itu membahas perkembangan pasar minyak global serta implementasi penyesuaian produksi yang telah diumumkan sejak April 2023.

Dalam pernyataannya, negara-negara peserta menyebut peningkatan produksi akan mendukung stabilitas pasar sekaligus mempercepat proses kompensasi atas tingkat produksi sebelumnya yang melebihi kuota.

Kelompok itu juga menegaskan kembali komitmennya terhadap Deklarasi Kerja Sama (Declaration of Cooperation), termasuk kepatuhan penuh terhadap penyesuaian produksi sukarela yang akan terus dipantau oleh Komite Pemantauan Menteri Gabungan (Joint Ministerial Monitoring Committee/JMMC).

Selain itu, ketujuh negara menyatakan akan menyelesaikan kompensasi atas volume produksi yang melampaui tingkat yang telah disepakati sejak Januari 2024.

Kenaikan produksi pada September sekaligus menandai rampungnya penghapusan bertahap pemotongan pasokan sukarela sebesar 1,65 juta barel per hari yang mulai diberlakukan pada 2023. Kesepakatan tersebut awalnya dicapai ketika Uni Emirat Arab masih menjadi anggota OPEC, sebelum negara itu keluar dari organisasi pada Mei 2026.

Keputusan OPEC+ diumumkan di tengah perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang masih menjadi perhatian pasar energi. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa sejumlah negara di kawasan telah mencapai kerangka kesepakatan yang berpotensi mengakhiri permusuhan, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz.

Iran kemudian membantah adanya kesepakatan itu dan menegaskan belum ada perubahan kebijakan terkait Selat Hormuz. Ketidakpastian mengenai jalur pelayaran strategis itu masih menjadi salah satu faktor yang terus dipantau pelaku pasar minyak dunia. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

BI: Capital Inflow Capai US$1,8 Miliar di Juli-Agustus 2026

BRIEF.ID - Bank Indonesia (BI) menyatakan aliran modal asing...

BI Tahan Suku Bunga di Level 5,75% untuk Perkuat Stabilitas Rupiah

BRIEF.ID - Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga...

BI Pertahankan BI Rate 5,75%

BRIEF.ID – Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%...

XLSMART Percepat Pemulihan Jaringan Telekomunikasi Pascagempa NTT

BRIEF.ID-Pemulihan jaringan telekomunikasi di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur...