BRIEF.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29% secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I-2026, namun masih lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,1%.
Meski menjadi laju pertumbuhan tahunan terendah sejak Kuartal III-2025, kinerja ekonomi Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian pasar keuangan, demikian dikutip dari laporan resmi BPS, yang dirilis Rabu (5/8/2026).
BPS mencatat perlambatan pertumbuhan terutama dipengaruhi oleh melambatnya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% pada Kuartal II-2026, lebih rendah dibandingkan 5,52% pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan belanja pemerintah turun menjadi 15,97% dari 21,81% pada Kuartal I-2026.
Di sisi lain, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menunjukkan kinerja yang lebih baik dengan pertumbuhan 6,87%, meningkat dari 5,96% pada kuartal sebelumnya. Aktivitas perdagangan juga tetap tumbuh, dengan impor meningkat 8,82%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor yang mencapai 4,13%.
Sejumlah indikator ekonomi lainnya turut menunjukkan perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,65% pada Mei 2026, dari 4,68% pada Februari 2026. Angka tersebut merupakan tingkat pengangguran terendah sejak 1994.
Selain itu, tingkat kemiskinan juga mencapai level terendah sejak 1999. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin tercatat 8,07%, turun dari 8,25% pada September 2025. Jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 430 ribu orang menjadi 22,93 juta jiwa.
Capaian pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi pasar menghadirkan sentimen positif bagi pelaku usaha dan investor. Namun, perlambatan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menjadi tantangan yang perlu diantisipasi agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga pada paruh kedua 2026. (nov)


