IHSG Terhempas ke Zona Merah Dipicu Kekhawatiran Pelemahan Rupiah

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terhempas kle zona merah dipicu kekhawatiran pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Senin (21/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,27% atau 17,64 poin ke level 6.423. Sebelumnya pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat tipis 0,09% atau 5,74 poin ke posisi 6.446.

Sepanjang perdagangan yang berakhir pada pukul 12:00 waktu JATS, IHSG lebih banyak bergerak di zona merah, dengan menyentuh level tertinggi di 6.451, dan level terendah di 6.388.

Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 329 saham naik harga, 291 saham turun harga, dan 168 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.

Volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan mencapai 14,289 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.057.781 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp5,745 triliun.

Meski pun lebih banyak saham yang mengalami kenaikan harga, IHSG tetap tertekan ke zona merah, karena tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps.

Saham 4 bank besar, yakni PT Bank Central Indonesia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), berada di zona merah.

Harga saham BBCA turun 0,79% atau Rp50 menjadi Rp6.250 per lembar, BMRI terkoreksi 0,70% atau Rp30 menjadi Rp4.230 per lembar, BBNI merosot 0,55% atau Rp20 menjadi Rp3.630 per lembar, dan BBRI melemah 0,60% atau Rp20 menjadi Rp3.290 per lembar. 

Terkoreksinya IHSG dipicu kekhawatiran pelemahan rupiah, seiring tren kenaikan suku bunga global. Setelah Bank Central AS atau Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga 25 basis point (Bps) menjadi 3,35%-4,00%, Bank of Japan atau BoJ juga ikut menaikkan suku bunga sebesar 25 bps.

Tren kenaikan suku bunga global tersebut, cipicu oleh lonjakan inflasi akibat dampak kenaikan harga energi dan harga barang, yang kemudian berimbas pada beralihnya arus modal ke aset berbasis dolar AS dari emerging market termasuk Indonesia.

Hal itu, terlihat dari arus modal keluar atau capital outflow di pasar saham dan pasar surat utang, yang telah menyeret nilai tukar rupioah anjlok hingga menembus level Rp17.800 per dolar AS.

Hal itu, membuat membuat investor khawatir Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga. RDG-BI yang digelar 22-23 September 2026, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di kisaran 5,75%. Meski demikian, ancaman inflasi global yang terus meningkat, membuat investor menilai BI akan kesulitan mempertahankan BI-Rate.

Kekhawatiran lainnya datang dari konflik Timur Tengah, dan perang Rusia-Ukraina, yang tak kunjung usai. Hal itu, telah mengganggu jaringan pasokan global, terutama untuk bahan bakar minyak dan gas (migas), serta barang konsumsi.

Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi cenderung melemah, dengan bergerak di kisaran level support 6.350 hingga level resistance 6.450. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Melemah Tembus Level Rp17.800, Tertekan Aksi Jual Obligasi

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah melemah hingga menembus...

Harga Emas Antam Terkoreksi Rp10.000 Imbas Kekhawatiran Lonjakan Inflasi Global

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...

Laporan Keuangan Danantara Mulai Diaudit, BPK Tegaskan Junjung Integritas dan Independensi

BRIEF.ID - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mulai mengaudit Laporan...

Kejagung Sita 11 Mobil PT PSMI Terkait Dugaan Korupsi Perkebunan di Kawasan Inhutani V

BRIEF.ID - Kejaksaan Agung melakukan penyitaan dalam penyidikan dugaan...