BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) melesat ke level 5.000 ditopang data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,47% pada kuartal III 2026.
Pada akhir sesi I perdagangan Kamis (5/11/2026), IHSG ditutup menguat 1,96% atau 96,40 poin ke level 5.016. Sebelumnya pada awal perdagangan IHSG dibuka menguat 1,60% atau 78,57 poin ke posisi 4.998.
Sepanjang sesi I perdagangan yang berakhir pukul 12:00 waktu JATS, IHSG bergerak di zona hijau dengan menyentuh level tertinggi di 5.072, dan level terendah di 4.995.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 431 saham naik harga, 189 saham turun harga, dan 94 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan hari ini mencapai 14,890 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 827.816 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp6,024 triliun.
Penguatan rupiah dipicu sentimen positif dari dalam dan luar negeri, terutama data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026, yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, mengatakan perekonomian Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada kuartal III 2026.
Adapun Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat mencapai Rp3.633,2 triliun dan atas dasar harga berlaku (ADHB) Rp6.741,0 triliun.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 bila dibandingkan kuartal III 2025 atau secara tahunan sebesar 5,47%,” kata Edy, di Jakarta, Kamis.
Sebelum pengumuman PDB Indonesia, pelaku pasar kembali masuk ke BEI dengan memborong saham-saham potensial, dipicu hasil Pemilu Sela AS yang dimenangkan Partai Demokrat.
Pasar keuangan global kembali bergairah, seiring penurunan tajam harga minyak hingga di bawah level US$100 per barel, begitu juga pelemahan indeks dolar AS, dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Seperti dilansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun 1,03% menjadi US$93,65 per barel pada pukul 02.11 GMT atau 09.11 WIB. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 1,29% ke level US$86,98 per barel.
Hasil Pemilu Sela AS yang dimenangkan Partai Demokrat juga mendorong indeks dolar AS terkoreksi ke level 101,3. Sedangkan yield US Treasury tenor 10 tahun yang menjadi acuan turun 10,1 basis poin (bps) menjadi 4,86%.
Kemenangan Partai Demokrat di Pemilu Sela AS memicu spekulasi pelaku pasar bahwa kebijakan Presiden AS, Donald Trump, yang berasal dari Partai Republik akan mendapat tantangan berat di parlemen.
Salah satunya, adalah kebijakan perang dengan Iran, yang telah memicu konflik Timur Tengah sejak februari 2026, yang telah meningkatkan ketidakpastian global akibat krisis energi.
Sumber Gedung Putih menyebut kemenangan Partai Demokrat yang menguasai Kongres AS dan Senat AS, memberi dorongan bagi Presiden Trump untuk segera mencapai kesepakatan damai dengan Iran.
Hal itu, tak hanya berimbas pada penurunan harga minyak dunia, tetapi juga mengurangib kekhawatran pelaku pasar terkait lonjakan inflasi akibat kenaikan biaya energi.
Jika penurunan harga minyak dunia terus berlanjut, bank-bank sentral di berbagai negara diperkirakan tak lagi terdesak untuk memperketat kebijakan moneter termasuk menaikkan suku bunga acuan.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi bergerak menguat di kisaran level support 5.000 hingga level resistance 5.100. (Jea)


