BRIEF.ID – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menekan kondisi kesehatan masyarakat. Hingga 16 September 2026, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lebih dari 151.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi yang terdampak karhutla.
Juru Bicara Kemenkes, Widyawati menyebut untuk mengantisipasi kondisi itu, Kemenkes telah mengerahkan 1.898 tenaga kesehatan ke tujuh provinsi terdampak. Langkah ini menurutnya, ditujukan untuk memperluas akses pelayanan medis sekaligus untuk memperkuat tenaga kesehatan di daerah yang menghadapi dampak karhutla.
Dia juga mengungkapkan pengerahan tenaga kesehatan diarahkan untuk memberikan pertolongan lebih dekat ke masyarakat. Total ada lebih dari 13 juta masyarakat yang berada di wilayah terdampak dan menjadi sasaran penguatan layanan kesehatan.
“Langkah ini kami ambil untuk mendekatkan pertolongan medis langsung kepada masyarakat terdampak, sekaligus menopang serta memperkuat tenaga kesehatan di daerah yang telah bekerja keras sejak awal,” tuturnya dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (21/9).
Selain mengerahkan tenaga kesehatan, dia mengatakan bahwa pemerintah juga telah menggelontorkan logistik medis untuk menghadapi ancaman gangguan kesehatan akibat penurunan kualitas udara. Hingga 16 September 2026, Kemenkes telah berhasil mendistribusikan 1.927.554 lembar masker untuk perlindungan masyarakat.
Dukungan juga mencakup 280 unit mesin pekat oksigen atau oxygen concentrator dan 36 tabung oksigen. Peralatan tersebut disiapkan untuk memperkuat ketersediaan oksigen, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan yang membutuhkan dukungan tambahan.
Kemenkes juga mendistribusikan 328 dus makanan tambahan serta obat-obatan dan vitamin sebagai bagian dari dukungan penanganan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.
Sejumlah wilayah mendapat perhatian khusus dalam distribusi peralatan oksigen. Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Riau termasuk daerah yang disebut memiliki dampak karhutla cukup berat sehingga mendapat prioritas penguatan fasilitas pelayanan kesehatan.
Di sisi pelayanan, dia menambahkan telah menyiagakan 1.691 Puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, serta 87 Labkesmas di wilayah terdampak. “Fasilitas itu disiapkan untuk mendukung penanganan medis sekaligus pengujian kualitas udara,” katanya.
Besarnya jumlah kasus ISPA yang telah tercatat menjadi salah satu indikator dampak kesehatan yang perlu diantisipasi selama karhutla berlangsung. Pemerintah menyatakan distribusi logistik medis akan terus dioptimalkan sesuai kebutuhan di lapangan.
Kondisi kualitas udara yang memburuk akibat asap karhutla juga membuat masyarakat diminta meningkatkan perlindungan diri. Kemenkes mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika kondisi udara tidak mendukung.
Penggunaan masker secara konsisten juga ditekankan sebagai salah satu langkah perlindungan masyarakat dari paparan udara yang tercemar asap karhutla. Imbauan tersebut terutama relevan bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan kualitas udara terdampak.
Kelompok rentan menjadi perhatian khusus pemerintah. Bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit bawaan seperti asma dan penyakit jantung diminta mendapat perlindungan lebih selama masa tanggap karhutla. (ayb)


