IQ Gen Z Lebih Rendah dari Generasi Sebelumnya, Pakar: Gara-Gara Teknologi Digital

BRIEF.ID – Penelitian terbaru menunjukkan Koefisien Kecerdasan atau Intelligence Quotient (IQ) generasi Z atau Gen Z lebih rendah dari generasi sebelumnya.

Hal ini terjadi gara-gara perkembangan dan paparan teknologi digital, yang menggerus kemampuan kongnitif, terutama untuk fokus, daya ingat, keterampilan membaca, menulis, dan berhitung Gen Z.

Pernyataan itu, dikemukakan pakar dan ahli saraf, Dr. Jared Cooney Horvath, yang melakukan penelitian terkait IQ pada Gen Z kelahiran Tahun 1997-2010.

Menurut dia, hasil penelitian menunjukkan Gen Z yang lahir di sekitar tahun 1997 hingga 2010 mengalami penurunan kemampuan kognitif dibanding generasi milenial.

“Mereka adalah generasi pertama dalam sejarah modern yang mendapat nilai lebih rendah pada tes akademik standar dibandingkan generasi sebelumnya,” kata Dr. Horvath seperti dilansir  New York Post.

Hal serupa dilansir Dailymail.com, yang menyebut baru pertama kali dalam sejarah 100 tahun terakhir, Gen Z menjadi generasi yang IQ-nya lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya, yakni silent generation, boomers, Gen X, dan Milenial.

Padahal hasil penelitian sebelumnya menunjukkan IQ setiap generasi lebih tinggi atau meningkat dibandingkan generasi sebelumnya atau disebut dengan Flynn Effect (efek Flin).

Ironisnya, penurunan IQ Gen Z justru terjadi pertama kali di negara-negara maju, dibandingkan negara berkembang. Hal ini, pertama kali terjadi di Norwegia.

Penyebab utama penurunan IQ Gen Z adalah digitalisasi yang berlebihan, bahkan di dunia pendidikan (edutech), yang membuat Gen Z kurang berpikir kritis.

Salah satu penyebab, anak-anak Gen Z dari tingkat sekolah dasar (SD) sudah menggunakan mesin pencari atau chat GPT untuk mengerjakan tugas, sehingga kemampuan berpikir menurun.

Hal itu, juga berdampak pada attention span Gen Z yang semakin rendah. Attention span adalah durasi waktu atau kemampuan seseorang untuk mempertahankan fokus dan berkonsentrasi pada suatu tugas atau aktivitas tanpa teralihkan.

“Makanya kalau ngomong dengan Gen Z, suka enggak fokus, atau tanggapannya sedikit, karena attention span-nya rendah,” tutur Dr Horvath.

Berikut beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab menurunnya kecerdasan pada Gen Z berdasarkan penelitian Dr. Horvath:

1. Perubahan cara belajar di era digital

Gen Z tumbuh bersama teknologi digital. Hal ini, juga  memengaruhi kebiasaan Gen Z dalam belajar, baik di rumah maupun di sekolah.

Kemajuan teknologi ini membuat anak cenderung menghabiskan lebih banyak waktu untuk menatap layar. Padahal, belajar lebih optimal jika menggunakan interaksi langsung, dan melibatkan proses konkret, bukan sekadar menyerap informasi dari layar saja.

“Setiap kali teknologi masuk ke dunia pendidikan, kualitas pembelajaran akan menurun. Berdasarkan data di 80 negara, begitu teknologi digitas diadopsi secara luas di sekolah, kualitas pembelajaran menurun secara signifikan,” ungkap Dr. Horvath.

2. Penggunaan perangkat digital yang berlebihan

Selain kebiasaan belajar yang terdigitalisasi, anak-anak Gen Z juga sering menghabiskan banyak waktu dengan gadget, baik ponsel, tablet, atau laptop, di luar jam pelajaran.

Bahkan ketika belajar atau mengerjakan tugas di rumah, mereka juga lebih suka menelusuri konten pelajaran di media sosial, daripada membaca buku.

“Belajar dari layar telah mengubah Gen Z menjadi pembaca sekilas, tanpa usaha yang sungguh-sungguh, sehingga lama-kelamaan pikiran yang cemerlang pun bisa menjadi tumpul,” tutur  Dr. Horvath.

3. Kurangnya kebijakan terhadap penggunaan digital

Aturan yang longgar soal penggunaan digital terhadap Gen Z, juga menjadi penyebab turunnya kecerdasan. Untuk itu, Dr. Horvath menekankan pentingnya batasan screen time bagi Gen Z yang masih di bangku pendidikan.

Pihak sekolah dan universitas juga didorong untuk kembali pada kebiasaan belajar-mengajar yang membuat Gen Z membaca buku secara langsung, dan membuat tugas dengan menulis tangan.

Ke depannya, Dr. Horvath berharap akan ada kebijakan baru yang mendorong sekolah untuk mengurangi penggunaan teknologi di ruang kelas.

Dengan begitu, generasi berikutnya, termasuk Generasi Alpha (Gen A) memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya secara optimal. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Karhutla Meluas, 151 Ribu Kasus ISPA Tercatat di 7 Provinsi, Kemenkes Kerahkan 1.898 Nakes

BRIEF.ID - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai...

IHSG Terhempas ke Zona Merah Dipicu Kekhawatiran Pelemahan Rupiah

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Rupiah Melemah Tembus Level Rp17.800, Tertekan Aksi Jual Obligasi

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah melemah hingga menembus...

Harga Emas Antam Terkoreksi Rp10.000 Imbas Kekhawatiran Lonjakan Inflasi Global

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...