Kembali Tahan Suku Bunga, Gubernur The Fed Sebut Tak Ada Tongkat Sihir

BRIEF.ID – Gubernur Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, menyebut tak ada tongkat sihir yang bisa digunakan untuk meringankan biaya hidup warga Amerika Serikat (AS).

Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed, yang berlangsung pada 28-29 Juli 2026, memutuskan kembali mempertahankan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) di kisaran 3,5% dan 3,75% .

Hal itu, didasarkan pada kemungkinan inflasi dapat meningkat dalam beberapa bulan mendatang karena konflik Timur Tengah yang masih berlangsung.

Meskipun inflasi AS turun menjadi 3,5% pada tahun hingga Juni, laju kenaikan harga tetap di atas target The Fed di kisaran 2%, dan berpotensi meningkat akibat dampak konflik Timur Tengah terhadap kenaikan harga minyak dunia.

Pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026), harga minyak dunia jenis Brent, yang menjadi acuan global, melonjak lebih dari 6% menjadi di atas $89 per barel.

“Tingkat inflasi yang lebih rendah bulan lalu bukan berarti harga turun, tetapi kenaikannya lebih lambat, mengingat situasi yang masih bergolak di Timur Tengah,” kata Warsh, seperti dikutip BBC, Kamis (30/7/2026).

Warsh menyampaikan banyak kalangan berharap The Fed dapat menaikkan suku bunga untuk memperlambat laju kenaikan harga di toko-toko.

Dengan menaikkan biaya pinjaman untuk hal-hal seperti hipotek, pinjaman, dan kartu kredit,  konsumen akan mengurangi pengeluaran dan laju kenaikan harga akan melambat. Suku bunga yang lebih tinggi juga dapat menghasilkan pengembalian yang lebih baik bagi penabung.

Selain itu, situasi yang bergejolak di Timur, memunculkan spekulasi bahwa Fed mungkin memilih untuk menaikkan suku bunga sebelum lonjakan biaya energi dan makanan terjadi di masa mendatang.

Meski demikian, Warsh mengatakan The Fed di bawah kepoemimpinannya baru bekerja selama 8 minggu, sehingga butuh kesabaran untuk memperhitungkan semua dampak, sebelum menaikkan suku bunga seperti yang diharapkan banyak kalangan.

“Kami sedang bekerja, kami akan memberikan hasil, kami fokus seperti laser untuk memastikan kami dapat melakukannya, tetapi anggapan bahwa kami akan dapat melambaikan tongkat sihir kami adalah sesuatu yang ingin saya bantah kepada Anda dan semua orang,” ujar Warsh.

Dia mengakui inflasi AS tetap tinggi, sebagian besar disebabkan oleh kenaikan harga energi, tetapi aktivitas ekonomi AS berkembang dengan “laju yang solid”, sehingga kenaikan suku bunga acuan belum mendesak.

Hal itu, menjadi perdebatan dalam rapat FOMC, namun mayoritas akhirnya mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau FFR.

Berikut ringkasan pernyataan Kevin Warsh, dalam konferensi pers seusai rapat FOMC, Rabu (29/7/2026):

1. Ekonomi AS menunjukkan “ketahanan yang mengesankan”.
2. Inflasi “tetap tinggi” relatif terhadap target 2% Fed.
3. Pernyataan kebijakan menampilkan “hanya fakta” dan “menghindari” panduan.
4. Tidak ada target inflasi lunak, satu-satunya target adalah 2%.
5. Fed mencatat imbal hasil nominal dan riil secara signifikan lebih tinggi sejak pertemuan Fed terakhir.
6. Pelaku pasar “belajar memainkan bola, bukan wasit”. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Saham Asia Bergerak Beragam, Kospi Rebound Didorong Kinerja Samsung

BRIEF.ID – Bursa saham Asia bergerak beragam pada perdagangan...

Rupiah Fluktuatif Berpotensi Menguat Terbatas Dipicu Pelemahan Indeks Dolar AS

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah bergerak fluktuatif, dan...

Harga Emas Antam Naik Rp15.000 Imbas The Fed Tahan Suku Bunga

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...

BMKG: Musim Kemarau Meluas, Waspadai Hujan Lokal dan Angin Kencang

BRIEF.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan...