Jepang-AS Dikabarkan Berkoordinasi Stabilkan Nilai Tukar Yen

BRIEF.ID – Pemerintah Jepang diperkirakan akan mengumumkan pada Senin (3/8/2026) bahwa Tokyo dan Washington telah melakukan koordinasi bersama untuk menghentikan pelemahan nilai tukar Yen, yang sempat menyentuh level terendah dalam hampir 40 tahun.

Mengutip Reuters, dua pejabat pemerintah Jepang mengatakan Menteri Keuangan Satsuki Katayama dijadwalkan menyampaikan bahwa Jepang dan Amerika Serikat (AS) melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing pekan lalu untuk menahan pelemahan Yen yang dinilai berlebihan. Salah seorang pejabat menyebut operasi tersebut masih berlangsung.

Langkah itu akan menjadi intervensi bersama pertama Jepang dan Amerika Serikat di pasar valuta asing dalam 15 tahun terakhir.

Sumber-sumber di pasar keuangan menyebut otoritas kedua negara melakukan pembelian Yen secara terkoordinasi untuk menopang mata uang Jepang yang terus tertekan akibat perbedaan arah kebijakan moneter dan penguatan dolar AS.

Pelemahan Yen  menjadi tantangan besar bagi pemerintah Jepang karena meningkatkan biaya impor, mendorong inflasi, serta menekan daya beli rumah tangga. Kondisi tersebut juga berdampak pada tingkat dukungan publik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Berdasarkan data Bank of Japan (BoJ), Jepang diperkirakan telah menggelontorkan dana  sekitar US$ 58,97 miliar untuk membeli Yen dalam intervensi yang dilakukan di pasar New York pada Kamis (30/7/2026). Dugaan intervensi serupa juga terjadi pada perdagangan Jumat (31/7/2026).

Di sisi lain, Departemen Keuangan Amerika Serikat dilaporkan telah memberi tahu sejumlah bank bahwa Washington juga kemungkinan akan melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Laporan Reuters bahkan menyebut Menteri Keuangan AS Scott Bessent terlihat membawa catatan bertuliskan “Buy Japanese Yen (JPY) US$ 5–10 billion” dalam sebuah rapat kabinet.

Bessent sebelumnya juga berulang kali menyatakan yen berada pada level yang sangat undervalued dan mendorong Bank of Japan untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.

Sejalan dengan itu, Bank of Japan pada Jumat (31/7/2026) memberikan sinyal paling kuat sejauh ini mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lebih cepat, meski tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan terakhir.

Koordinasi regional juga mulai terlihat. Korea Selatan dilaporkan ikut melakukan pembelian won untuk membantu meredam gejolak di pasar valuta asing.

Pada akhir perdagangan Jumat (31/7/2026), dolar Amerika Serikat berada di kisaran 157,60 Yen, turun dari level hampir 164 Yen yang sempat dicapai pada awal pekan. Level tersebut merupakan posisi tertinggi dolar terhadap yen sejak 1986.

Sebelumnya, Jepang telah melakukan intervensi pada April dan Mei 2026, namun hanya mampu memberikan penguatan sementara bagi yen. Bahkan kenaikan suku bunga Bank of Japan menjadi 1% pada Juni, level tertinggi dalam 31 tahunm, belum mampu mengangkat nilai tukar yen secara berkelanjutan. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan, Investor Cermati Data Ekonomi dan Konflik AS-Iran

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpeluang...

Harga Bitcoin Bertahan di Atas US$ 63.000

BRIEF.ID – Harga Bitcoin bertahan di atas level US$...

OPEC+ Sepakat Menaikkan Produksi Minyak 188.000 Barel per Hari, Mulai September

BRIEF.ID – Tujuh anggota utama aliansi OPEC+ sepakat meningkatkan...

Iran Bantah Ada Kesepakatan Pembukaan Kembali Selat Hormuz

BRIEF.ID – Pemerintah Iran membantah laporan yang menyebut telah...