BRIEF.ID – Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat pada Sabtu (18/4/2026) ketika Iran membatalkan pembukaan kembali jalur air penting itu dan menembak kapal-kapal yang mencoba melewatinya, sebagai balasan terhadap tindakan Amerika Serikat (AS) memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Dikutip dari Associated Press, Minggu (19/4/2026), Selat Hormuz ditutup hingga blokade AS dicabut, kata angkatan laut Garda Revolusi Iran pada Sabtu (18/4/2026) malam, seraya memperingatkan bahwa tidak ada kapal yang boleh bergerak dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia dan Laut Oman. Kapal-kapal yang berusaha mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh dan akan menjadi sasaran tembakan.
Serangan baru di Selat Hormuz, yang biasanya dilalui oleh sekitar seperlima minyak dunia, mengancam akan memperdalam krisis energi global dan mendorong kedua negara ke dalam konflik baru saat perang memasuki minggu kedelapan.
Gencatan senjata AS-Iran yang rapuh akan berakhir pada Rabu (15/4/20260. Iran mengatakan telah menerima proposal baru dari Amerika Serikat, dan mediator Pakistan sedang berupaya mengatur putaran negosiasi langsung lainnya.
Sebelumnya, komando militer gabungan Iran mengatakan “pengendalian Selat Hormuz telah kembali kepada keadaan semula … di bawah manajemen dan kendali ketat angkatan bersenjata.”
Kapal perang Garda Revolusi melepaskan tembakan ke sebuah kapal tanker dan sebuah proyektil tak dikenal telah mengenai kapal kontainer, merusak beberapa kapal kontainer, kata pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris.
Kementerian Luar Negeri India mengatakan telah memanggil duta besar Iran terkait “insiden serius” penembakan terhadap dua kapal dagang berbendera India, terutama setelah Iran mengizinkan beberapa kapal tujuan India untuk lewat.
Bagi Iran, penutupan selat — yang diberlakukan setelah AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari 2026 selama pembicaraan tentang program nuklir Teheran — mungkin merupakan senjata paling ampuh, mengancam ekonomi dunia, dan menimbulkan penderitaan politik bagi Presiden AS Donald Trump. Di sisi lain, bagi AS blokade tersebut terus memberikan tekanan dan dapat mencekik ekonomi Iran yang sudah melemah.
Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan menantang pada Sabtu (18/4/2026), yang mengatakan bahwa angkatan laut “siap untuk memberikan kekalahan telak kepada musuh-musuhnya.” Ia belum terlihat di depan umum sejak diangkat ke posisi itu setelah kematian ayahnya dalam serangan bom pertama Israel. (nov)


