BRIEF.ID – Harga Bitcoin melonjak hingga menembus angka di atas US$ 77.000, pada Jumat (17/4/2026) setelah Iran menyatakan Selat Hormuz sepenuhnya terbuka untuk lalu lintas komersial, selama berlangsung gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Mata uang kripto terbesar di dunia itu naik 3,3% menjadi US$ 77.419,2 pada pukul 21:14 GMT.
Bitcoin diperkirakan akan naik sekitar 6% untuk pekan ini, tetapi kesulitan untuk menembus level psikologis US$ 75.000 sebelum hari Jumat setelah sempat melewatinya di awal pekan. Kenaikan harga Bitcoin didukung oleh harapan akan adanya pembicaraan baru antara AS dan Iran.
“Sesuai dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur untuk semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata,” kata Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial X.
Kapal-kapal masih diharuskan menggunakan “rute terkoordinasi” yang ditetapkan oleh otoritas maritim Iran, tambahnya.
Pembukaan kembali selat tersebut menjadi kabar baik bagi banyak pelaku pasar, karena penutupan jalur air vital yang dilalui seperlima minyak dan gas dunia tersebut menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah dan membuat harga minyak melonjak.
Reaksi terhadap pengumuman tersebut langsung terjadi di semua kelas aset, dengan saham berisiko dan kripto naik, harga minyak anjlok, dolar melemah, dan emas naik. Wall Street akhirnya ditutup pada level rekor, dengan indeks acuan S&P 500 ditutup di atas 7.100 poin untuk pertama kalinya.
Presiden AS Donald Trump mengucapkan terima kasih kepada Iran melalui media sosial. Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata 10 hari yang dimulai Kamis pukul 17.00 ET. Kampanye militer Israel terhadap Hizbullah, kelompok militan yang didukung Iran yang beroperasi di Lebanon, telah menjadi poin penting dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran.
Trump telah menyetujui gencatan senjata dua minggu pada 7 April sebagai imbalan atas pembukaan kembali selat sepenuhnya oleh Iran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh AS melanggar perjanjian tersebut dengan mengizinkan kampanye militer Israel yang berkelanjutan di Lebanon. (Investing.com/nov)


