BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) melesat, dan menguji level 6.400, dipicu aksi borong investor terhadap saham sektor properti dan konsumsi.
Hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (7/8/2026), IHSG terpantau menguat 0,71% atau 44,77 poin di level 6.388. Sebelumnya, IHSG dibuka menguat 0,14% atau 8,67 poin ke posisi 6.352 pada awal sesi I perdagangan hari ini.
Sepanjang 3 jam perdagangan saham berlangsung, IHSG teerpantau terus bergerak di zona hijau, dengan menyentuh level tertinggi di 6.408, dan level terendah di 6.347.
Data perdagangan BEI hari ini menunjukkan sebanyak 338 saham naik harga, 247 saham turun harga, dan 204 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan mencapai 23,506 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.314.481 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp8,726 triliun.
Penguatan IHSG dipicu aksi borong yang dilancarkan investor terhadap saham-saham potensial, terutama dari sektor properti dan konsumsi. Hal itu, terjadi seiring laporan keuangan emiten (perusahaan tercatat) pada kuartal II 2026, yang menunjukkan kinerja positif.
Harga saham properti yang melonjak, terutama dari developer besar, antara lain PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).
Adapun harga saham LPKR hari ini terpantau 9,68% atau Rp9 menjadi Rp68 per lembar, CTRA melonjak 3,31% atau Rp20 menjadi Rp625 per lembar, SMRA menguat 2,48% atau Rp8 menjadi Rp330 per lembar, dan PWON naik 2,31% atau Rp6 menjadi Rp266 per lembar.
Sementara saham sektor konsumsi yang menguat diantaranya PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
Harga saham GGRM terpantau melonjak 3,64% atau Rp750 menjadi Rp21.350 per lembar, ICBP melesat 3,02% atau Rp225 menjadi Rp7.675 per lembar, INDF menguat 2,06% atau Rp150 menajdi Rp7.425 per lembar, dan UNVR naik 0,55% atau Rp10 menjadi Rp1.815 per lembar.
Selain kinerja keuangan emiten yang positif di kuartal II 2026, penguatan IHSG juga ditopang sentimen konflik Timur Tengah yang kian mereda, seiring kabar Iran dan Oman telah mencapai tahap akhir kesepakatan terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selain itu, rilis data cadangan devisa yang menyusut, namun masih memadai untuk menjaga stabilitas rupiah dan pembiayaan impor, dinilai menunjukkan ketahanan ekonomi Insonesia tetap stabil.
Pada hari ini, Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Indonesia menyusut US$0,3 miliar menjadi US$145,3 miliar pada Juli 2026 dibandingkan US$145,6 miliar pada Juni 2025.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi masih bergerak di zona hijau hingga penutupan perdagangan di kisaran level support 6.320 hingga level resistance 6.420. (Jea)


