BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (18/8/2026) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang melanjutkan tren penguatan seiring meningkatnya optimisme investor pada prospek perekonomian Indonesia.
Sentimen positif datang dari pidato Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian Nota Keuangan RAPBN 2027 di DPR, Jumat (14/8/2026). Prabowo menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% secara tahunan (YoY) pada Semester I-2026, yang disebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6% pada akhir 2026.
Optimisme pasar juga ditopang oleh realisasi investasi yang mencapai Rp 1.010 triliun pada Semester I-2026 dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan pekerjaan.
Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji area resistance 6.450–6.480. Level pivot berada di 6.400 dan support  di angka 6.350.
Secara teknikal, indikator Stochastic RSI membentuk golden cross di area pivot, sementara histogram positif MACD semakin melebar. Kondisi tersebut menunjukkan momentum penguatan masih berpeluang berlanjut.
Sejumlah saham yang menjadi pilihan Phintraco Sekuritas, antara lain BMRI, BBNI, BBCA, TINS, dan MDKA.
Sebelumnya, IHSG pada perdagangan Jumat (14/8/2026) ditutup menguat 1,59% ke level 6.401,89.
Realisasi investasi yang tinggi diperkirakan memberikan dampak positif terhadap sejumlah sektor, khususnya perbankan, konsumsi, industri, dan konstruksi.
Jika investasi menghasilkan multiplier effect, peningkatan aktivitas ekonomi dapat mendorong konsumsi masyarakat sekaligus meningkatkan permintaan kredit perbankan.
Prabowo juga menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada sejumlah komoditas pangan, termasuk beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Pencapaian tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi sektor poultry, perkebunan, pupuk, dan industri pengolahan makanan.
Di sektor energi, Indonesia disebut tidak lagi mengimpor solar sejak 1 Juli 2026 berkat penerapan B50. Kebijakan tersebut diperkirakan menghemat devisa hingga Rp170 triliun per tahun sekaligus meningkatkan permintaan CPO di pasar domestik.
Pemerintah menargetkan jumlah BUMN maksimal 300 entitas pada akhir 2026. Lebih dari 750 entitas disebut akan ditutup atau direstrukturisasi karena dinilai tidak produktif.
Restrukturisasi tersebut diperkirakan menghasilkan penghematan biaya overhead sekitar Rp50 triliun per tahun. Dana tersebut akan diarahkan untuk investasi, industrialisasi, peningkatan pelayanan, dan kepentingan masyarakat.
Sementara itu, dividen BUMN untuk tahun buku 2026 diproyeksikan mencapai Rp200 triliun tanpa tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN).
Secara keseluruhan, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, peningkatan investasi, kebijakan swasembada pangan dan energi, serta restrukturisasi BUMN menjadi katalis positif bagi pasar saham. Investor kini akan mencermati apakah sentimen ini mampu mendorong IHSG menembus resistance 6.450–6.480. (nov)


