Harga Minyak Naik Lebih dari 2%, Brent Tembus US$ 90 per Barel

BRIEF.ID –  Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (17/8/2026), melanjutkan kenaikan pada pekan sebelumnya. Penguatan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait masa depan Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak semakin kuat setelah Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan klaim Washington atas kendali Selat Hormuz dan mengancam akan menyerang Oman apabila negara itu menghambat pembicaraan antara AS dan Iran.

Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Oktober, yang menjadi acuan harga minyak global, naik 2,5% menjadi US$ 90,68 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober menguat 2,7% menjadi US$ 83,64 per barel.

Kenaikan ini memperpanjang reli harga minyak dalam sepekan terakhir. Harga Brent melonjak hampir 6% sepanjang pekan lalu, sedangkan WTI mencatat kenaikan lebih dari 5,5%.

Ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang mendorong kekhawatiran pasar. Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi yang sangat strategis karena menjadi salah satu pintu utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.

Trump pada Senin (17/8/2026)  mengatakan bahwa AS memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz. Ia sebelumnya juga menyampaikan klaim serupa dan mengatakan Washington mempertahankan kendali melalui blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Di sisi lain, Iran juga mengklaim memiliki kendali atas selat tersebut. Teheran menyatakan pembukaan kembali jalur pelayaran harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk penghentian permusuhan di berbagai lini serta pencairan aset Iran.

Situasi semakin rumit setelah nota kesepahaman antara Washington dan Teheran yang ditandatangani pada pertengahan Juni berakhir pada Senin. Trump sebelumnya menyatakan tidak memiliki rencana untuk memperpanjang kesepakatan tersebut.

Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran investor mengenai kemungkinan terganggunya pasokan energi global. Jika ketegangan di sekitar Selat Hormuz terus meningkat, harga minyak berpotensi mengalami tekanan kenaikan lebih lanjut dan pada akhirnya memperbesar risiko inflasi di berbagai negara.

Pasar kini akan mencermati perkembangan diplomasi Amerika Serikat-Iran serta situasi keamanan di Selat Hormuz. Setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di jalur strategis tersebut berpotensi memberikan dampak langsung terhadap harga minyak dunia dan pasar keuangan global. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Investor Asing Mulai Kembali ke Indonesia, Tae Yong Shim Ungkap Sinyal Kebangkitan Saham dan Obligasi

BRIEF.ID - Investor asing mulai kembali menempatkan dananya di...

Rupiah Menguat Seiring Tren Pelemahan Yield US Treasury dan Indeks Dolar AS

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar...

IHSG Melemah Imbas Aksi Profit Taking, Lebih Dari 300 Saham Turun Harga

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Rosan: Pupuk Indonesia Jajaki Investasi Pabrik Urea di Vladivostok

BRIEF.ID — Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM merangkap CEO...