BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menembus level 6.400 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (7/8/2026).
Penguatan IHSG terutama ditopang saham-saham LQ45 yang ramai diborong investor, terutama dari sektor konsumsi, dan pertambangan.
Hingga akhir perdagangan hari ini, IHSG terpantau naik 1,04% atau 65,94 poin ke level 6.409. Sebelumnya, dibuka menguat 0,14% atau 8,67 poin ke posisi 6.352 pada awal sesi I perdagangan hari ini.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG terus bergerak di zona hijau, dengan menyentuh level tertinggi di 6.409, dan level terendah di 6.347.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 355 saham naik harga, 235 saham turun harga, dan 203 saham tidak mengalami eprubahan harga atau stagnan.
Adapun volume transaksi mencapai 38,065 miliar lembar, dengan frekuensi tarnsaksi sebanyak 2.208.359, dan nilai transaksi sebesar Rp16,464 triliun.
Saham–saham yang menjadi pendorong kenaikan IHSG, antara lain dari sektor (2,17%), barang baku (1,63%), saham teknologi (1,25%), dan saham konsumsi (1,24%).
Saham–saham unggulan LQ45 yang melejit antara lain, PT Indika Energy Tbk (INDY) melesat 5,88%, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melejit 4,47%, disusul PT Indofood CBP Tbk (ICBP) melonjak 4,04%, dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menguat 3,77%.
Penguatan IHSG ditopang rilis data cadangan devisa Indonesia yang semakin mempertegas ketahanan ekonomi Indonesia, menyusul data pertumbuhan ekonomi sebesar 5,10% pada kuartal II 2026.
Pada hari ini, Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Indonesia menyusut US$0,3 miliar menjadi US$145,3 miliar pada Juli 2026 dibandingkan US$145,6 miliar pada Juni 2025.
Meski menyusut secara bulanan atau month-to-month (mtm), posisi cadangan devisa Indonesia dinilai masih kuat, dan tetap mampu menjadi bantalan utama dalam menjaga stabilitas eksternal.
Data cadangan devisa tersebut, juga memperkuat keyakinan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap terjaga, seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,10% pada kuartal II 2026.
Hal ini, ditandai dengan arus masuk dana asing (capital inflow) ke pasar obligasi, sehingga rupiah maupun IHSG ditutup di zona hijau. (Jea)


