BRIEF.ID – Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran membantah laporan bahwa mereka berencana mengenakan biaya kepada kapal-kapal komersial, yang melintasi Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan, Sabtu (1/8/2026), Pusat Koordinasi Operasi Kemanusiaan yang dikelola Houthi menyatakan belum ada keputusan untuk memungut biaya dari kapal yang melintas. Houthi menegaskan bahwa jalur pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb tetap terbuka dan dapat dilalui tanpa pungutan.
Pernyataan itu disampaikan menanggapi laporan Reuters yang menyebut Houthi sedang mempertimbangkan penerapan biaya bagi kapal-kapal yang berlayar di Laut Merah bagian selatan, sekitar sepekan setelah kelompok itu mendeklarasikan blokade maritim terhadap Arab Saudi.
Menurut sejumlah sumber regional, usulan itu sempat dibahas bersama pejabat Iran saat kunjungan delegasi Houthi ke Teheran pada Juli. Namun, hingga kini belum ada keputusan maupun jadwal pelaksanaan yang disepakati.
Pusat koordinasi Houthi menegaskan bahwa layanan pengamanan pelayaran yang mereka tawarkan bersifat sukarela dan tidak dipungut biaya. Mereka juga mengimbau perusahaan pelayaran agar tidak melakukan pembayaran ataupun memberikan informasi kepada pihak yang mengatasnamakan Houthi tanpa kewenangan resmi.
Sementara itu, ketegangan di kawasan terus meningkat. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut telah memerintahkan militer AS menyiapkan serangan baru terhadap Iran, yang berpotensi dimulai pada akhir pekan dan berlangsung selama beberapa hari.
“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras,” kata Trump, seraya menyatakan bahwa tekanan militer diyakini akan mendorong Teheran kembali ke meja perundingan dan menghentikan program nuklirnya.
Laporan itu juga menyebut keputusan diambil setelah rapat kabinet di Camp David pada Jumat (31/7/2026), menyusul serangan Iran terhadap pasukan AS di Yordania serta serangan balasan Amerika Serikat beberapa hari sebelumnya.
Meski demikian, sejumlah pejabat AS menyatakan operasi militer tersebut masih dapat ditunda apabila Washington dan Teheran berhasil mencapai kemajuan dalam upaya diplomatik. Mereka juga menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Trump dan masih dapat berubah sewaktu-waktu.
Perkembangan ini menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, terutama terkait keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi perdagangan energi dan logistik global. (Investing.com/nov)


