Harga Minyak Dunia Naik, Catat Kenaikan Bulanan 20%

BRIEF.ID – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (31/7/2026) dan kini berada pada jalur mencatat kenaikan bulanan lebih dari 20% sepanjang Juli. Lonjakan dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Harga minyak terdorong setelah Iran menyerang dua kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dan menyatakan jalur pelayaran strategis itu ditutup. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan itu langsung menghadirkan sentimen pasar energi.

Selain Selat Hormuz, kekhawatiran pasar juga meningkat akibat ancaman terhadap Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, yang menjadi rute utama perdagangan minyak internasional.

Pada perdagangan Jumat pukul  18.38 GMT atau Sabtu (1/8/2026) pukul 01.38 dini hari WIB, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Oktober naik sebesar 1,2% menjadi US$ 87,88 per barel. Sementara itu, kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September juga menguat 1,2% menjadi US$ 84,59 per barel.

Kenaikan harga minyak sepanjang Juli menandai pembalikan tajam dibandingkan bulan sebelumnya. Setelah merosot hampir 20% pada Juni, harga minyak kini diperkirakan mengakhiri Juli dengan lonjakan lebih dari 20%.

Perubahan drastis tersebut dipicu memburuknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran setelah upaya mencapai kesepakatan damai sementara gagal. Aksi saling balas serangan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan dan potensi terganggunya pasokan minyak global.

Pergerakan harga minyak selama Juli juga menunjukkan volatilitas yang tinggi. Pada 2 Juli 2026, Brent dan WTI sempat menyentuh level terendah sejak akhir Februari. Namun, setelah eskalasi konflik meningkat, harga melonjak tajam hingga pada 23 Juli Brent mencapai US$ 95,30 per barel, sedangkan WTI menyentuh US$ 88,07 per barel. Kenaikan tersebut setara sekitar 36% untuk Brent dan 31% untuk WTI dibandingkan titik terendah bulanannya.

Di tengah reli harga minyak, perusahaan energi besar Amerika Serikat turut menikmati peningkatan kinerja. ExxonMobil dan Chevron melaporkan lonjakan laba pada kuartal II, didorong oleh kenaikan harga minyak yang meningkatkan pendapatan dari bisnis hulu migas.

Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama situasi di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, karena setiap eskalasi berpotensi  mendorong harga minyak lebih tinggi dan mempengaruhi inflasi serta prospek pertumbuhan ekonomi global. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Bulan Juli 2026, Indeks Nasdaq Anjlok 3,2% dan Saham Chip Catat Kinerja Terburuk

BRIEF.ID – Bursa saham Wall Street Amerika Serikat (AS),...

Wall Street Ditutup Menguat Pada Akhir Juli, Amazon Melesat, dan Apple Tertekan

BRIEF.ID – Bursa saham Wall Street, New York, Amerika...

Survei Litbang Kompas: 97,5% Pengguna Puas Layanan TransBandara

BRIEF.ID – Mayoritas pengguna TransBandara rute Blok M-Bandara Internasional...

Tarif TransBandara Blok M-Soetta Resmi Rp15.000 Mulai 1 September

BRIEF.ID - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta resmi menetapkan tarif...