BRIEF.ID – Bursa saham Wall Street Amerika Serikat (AS), ditutup menguat pada perdagangan Jumat (31/7/2026) waktu setempat. Kenaikan dipimpin saham-saham sektor barang konsumsi non-esensial, terutama Amazon, serta pemulihan sebagian saham semikonduktor. Namun, penguatan itu belum mampu menghapus kinerja negatif pasar sepanjang Juli 2026.
Indeks S&P 500 naik 0,7% menjadi 7.489,67, Nasdaq Composite menguat 1% ke level 25.373,85, dan Dow Jones Industrial Average naik 0,5% menjadi 52.485,74.
Meski ditutup positif pada hari terakhir perdagangan, Wall Street tetap membukukan hasil yang beragam selama Juli. Nasdaq mencatat penurunan paling tajam, yaitu melemah 3,2%, sedangkan S&P 500 turun tipis 0,1%. Sebaliknya, Dow Jones masih mampu mencatat kenaikan 0,3%.
Tekanan terhadap pasar dipicu oleh kombinasi melemahnya reli saham-saham kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya menjadi motor penggerak Wall Street, serta kembali naiknya harga minyak akibat memanasnya ketegangan di Timur Tengah setelah upaya diplomasi mengalami kebuntuan.
Sepanjang paruh pertama tahun ini, optimisme pada perkembangan AI mendorong saham-saham teknologi, terutama perusahaan semikonduktor, mencatat kenaikan tajam hingga membawa indeks-indeks utama ke level rekor. Namun dalam beberapa pekan terakhir, sentimen tersebut mulai berubah.
Investor semakin khawatir pada tingginya valuasi saham teknologi, belum jelasnya waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh keuntungan dari investasi AI yang sangat besar, serta meningkatnya persaingan teknologi dari Tiongkok. Kondisi tersebut memicu aksi ambil untung di sektor teknologi dan semikonduktor.
Dampaknya paling terlihat pada Philadelphia Semiconductor Index (SOX), indeks acuan sektor chip di AS, yang anjlok 20,6% sepanjang Juli. Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak Oktober 2008, ketika pasar global diguncang krisis keuangan.
Pada perdagangan Jumat (31/7/2026), sentimen pasar sempat membaik berkat penguatan saham Amazon dan pemulihan sebagian saham chip. Namun, kenaikan ini dibatasi oleh anjloknya saham Apple setelah laporan keuangan, pelemahan sektor material, serta naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS yang kembali menekan minat investor terhadap aset berisiko.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan inflasi, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta laporan keuangan emiten teknologi berikutnya untuk mengukur apakah koreksi pada sektor AI hanya bersifat sementara atau menjadi awal dari perubahan tren yang lebih panjang. (Investing.com/nov)


