BRIEF.ID – Harga emas bertahan di atas level US$4.500 per troy ons pada perdagangan Kamis (20/8/2026), setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 4% dan menembus level tertinggi sejak awal Juni 2026. Penguatan emas tertahan aksi ambil untung serta kenaikan harga minyak yang kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Harga emas di pasar spot sempat menyentuh US$ 4.525,79 per troy ons, level tertinggi sejak 2 Juni 2026, sebelum bergerak lebih rendah. Pada perdagangan Kamis (20/8/2026) harga emas tercatat sekitar US$4.516,19 per ons, turun tipis 0,1%. Sementara itu, emas berjangka AS ditutup naik sekitar 0,6% menjadi US$4.571,40 per ons.
Lonjakan harga emas sehari sebelumnya dipicu langkah Departemen Keuangan AS, yang mengumumkan peningkatan pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah jangka panjang. Kebijakan tersebut mendorong harga Treasury naik, menekan imbal hasil obligasi, sekaligus melemahkan dolar AS – kondisi yang biasanya mendukung harga emas karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Penguatan emas mulai kehilangan momentum setelah investor melakukan aksi ambil untung. Kenaikan harga minyak dan sinyal yang relatif hawkish dari risalah rapat Federal Reserve juga meningkatkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek suku bunga.
Pasar juga mencermati meningkatnya risiko fiskal AS setelah total utang pemerintah Amerika Serikat menembus US$40 triliun. Kondisi tersebut turut memperkuat perhatian investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian fiskal dan ekonomi.
Meski demikian, prospek emas masih mendapat dukungan dari potensi penurunan suku bunga riil jangka panjang. Morgan Stanley memperkirakan harga emas berpeluang menembus US$5.000 per ons pada 2027, bahkan lebih cepat apabila kondisi suku bunga mendukung. (nov)


