BRIEF.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga produksi pangan nasional selama musim kemarau 2026.
Langkah yang ditempuh tersebut antara lain percepatan tanam, pemanfaatan teknologi hemat air, penggunaan varietas berumur pendek, hingga penambahan sistem irigasi perpompaan yang ditargetkan melayani sekitar 1 juta hektare lahan pertanian.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan pemerintah berupaya meningkatkan indeks pertanaman dengan mempercepat masa tanam setelah panen. Kementan menargetkan jeda antara panen dan tanam berikutnya tidak lebih dari 14 hari agar frekuensi tanam petani dapat meningkat.
“Kalau selama ini tanam dua kali setahun, kita dorong menjadi tiga kali. Yang sebelumnya satu kali kita dorong menjadi dua kali. Dengan lahan yang sama, produksi bisa meningkat karena frekuensi tanamnya bertambah,” tutur Suwandi di Jakarta, Rabu (17/6).
Menurut Suwandi, peningkatan indeks pertanaman menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga pasokan pangan nasional di tengah potensi berkurangnya curah hujan pada musim kemarau.
Selain percepatan tanam, menurutnya, petani juga didorong agar mengoptimalkan pemanfaatan lahan melalui pola tumpang sari dengan komoditas bernilai ekonomi seperti kacang tanah, kacang hijau, dan berbagai jenis sayuran. Strategi tersebut dinilai dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menambah pendapatan petani.
Suwandi menilai musim kemarau tidak selalu berdampak negatif terhadap sektor pertanian. Dengan dukungan teknologi dan pengelolaan air yang memadai, intensitas sinar matahari yang lebih tinggi justru dapat mendukung proses fotosintesis dan meningkatkan hasil produksi.
“Musim kemarau bisa menjadi peluang meningkatkan produksi apabila didukung pengelolaan air yang baik dan penerapan teknologi yang tepat,” katanya.
Untuk memperkuat ketahanan sektor pertanian, pemerintah juga memperluas program irigasi perpompaan. Tahun ini, tambahan pompa air disiapkan untuk mendukung pengairan sekitar 1 juta hektare lahan pertanian. Program tersebut melengkapi jaringan perpompaan yang sebelumnya telah melayani sekitar 2 juta hektare lahan di berbagai daerah.
Menurut Suwandi, sistem perpompaan menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan risiko kekeringan yang semakin meningkat.
“Kekuatan utama kita menghadapi musim kemarau adalah sistem perpompaan dan pengelolaan sumber air dari waduk, embung, sungai maupun sumur yang didukung teknologi dan energi yang memadai,” ujarnya.
Kementan juga memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, PLN, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) guna memastikan ketersediaan air dan pasokan energi untuk operasional pompa di lapangan.
Selain menjaga produksi, pemerintah menyiapkan berbagai skema perlindungan bagi petani. Salah satunya melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang memberikan nilai pertanggungan hingga Rp6 juta per hektare bagi petani yang mengalami gagal panen akibat bencana alam.
Petani terdampak kekeringan juga akan memperoleh bantuan benih, sarana produksi, alat dan mesin pertanian, serta pendampingan percepatan tanam kembali agar aktivitas budidaya dapat segera pulih.
Sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan nasional, pemerintah mengalokasikan sekitar 57.000 unit pompa air dan berbagai alat mesin pertanian lainnya pada 2026 untuk mendukung keberlanjutan produksi pangan di berbagai wilayah.
Melalui berbagai langkah tersebut, Kementan optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga sekaligus memperkuat upaya pemerintah dalam mencapai target swasembada pangan di tengah tantangan perubahan iklim dan musim kemarau. (ayb)


