BRIEF.ID – Deutsche Bank AG memperkirakan harga emas dunia bakal merosot sekitar 20% ke level US$4.300 per troy ounce pada kuartal III 2026.
Hal itu, terkait dengan dampak konflik Timur Tengah, dan kemungkinan tidak adanya penurunan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) di tahun ini.
Dalam kajian terbaru, Deutsche Bank AG menyatakan masih kuatnya data ekonomi AS menjadi faktor utama, yang membuat harga emas dunia turun.
Selain itu, dampak konflik Timur Tengah yang tak kunjung selesai, berpotensi meningkatkan inflasi global, sehingga menjadi sentimen negatif bagi pasar logam mulia.
Meski demikian, Deutsche Bank AG memperkirakan harga emas dunia akan kembali meningkat menjelang akhir tahun ini, dengan catatan AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.
“Untuk kuartal IV-2026, harga emas diprediksi meningkat ke level US$4.800 per troy ounce,” demikian kajian Deutsche Bank AG, seperti dikutip Bloomberg News, Rabu (24/6/2026).
Pada perdagangan Selasa (23/6/2026), harga emas dunia di pasar spot ditutup anjlok 2,22% ke level US$4.098,8 per troy ounce, seiring ekspetasi pelaku pasar terkait arah kebijakan moneter global, yang semakin diperketat.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), sehingga memegang atau berinvestasi emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga masih tinggi. (jea)


