BRIEF.ID – Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bambang Soesatyo menilai gejolak geopolitik global, termasuk eskalasi konflik Iran-Israel dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, belum memberikan dampak signifikan terhadap kinerja sektor pariwisata Bali.
Menurut Bamsoet, hingga saat ini arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Dewata masih terjaga, sementara aktivitas ekonomi yang bergantung pada sektor pariwisata tetap bergerak stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
“Situasi geopolitik dunia memang menimbulkan kekhawatiran terhadap berbagai sektor ekonomi. Namun hingga saat ini Bali menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Wisatawan mancanegara tetap datang dalam jumlah besar karena daya tarik Bali sudah menjadi bagian dari destinasi wisata dunia yang sulit tergantikan,” tuturnya dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (15/6).
Dia mengatakan industri pariwisata Bali telah berulang kali menghadapi berbagai guncangan global, mulai dari krisis keuangan internasional, pandemi Covid-19, hingga berbagai konflik geopolitik. Menurut Bamsoet, pengalaman itu dinilai membuat pelaku usaha pariwisata lebih adaptif dalam merespons perubahan pasar.
Menurutnya, pelaku industri wisata di Bali mampu melakukan diversifikasi pasar dengan cepat ketika terjadi perlambatan kunjungan dari negara tertentu, sekaligus terus meningkatkan kualitas layanan agar tetap kompetitif di tingkat internasional.
“Kita bisa melihat bagaimana pelaku usaha pariwisata Bali bergerak cepat membaca perubahan pasar. Ketika satu pasar mengalami perlambatan, mereka mampu mengalihkan fokus ke pasar lain yang sedang tumbuh. Fleksibilitas inilah yang membuat industri pariwisata Bali tetap tangguh dalam menghadapi berbagai krisis,” kata Bamsoet.
Di sisi lain, Bamsoet menilai pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing destinasi wisata Indonesia di mata wisatawan asing. Nilai tukar yang lebih rendah membuat biaya berwisata di Indonesia relatif lebih kompetitif dibandingkan sejumlah destinasi lain di kawasan.
Kondisi tersebut, menurut dia, berpotensi meningkatkan penerimaan devisa sektor pariwisata serta memberikan manfaat bagi pelaku usaha perhotelan, restoran, transportasi wisata, pelaku UMKM, industri kreatif, hingga masyarakat yang menggantungkan pendapatannya pada aktivitas pariwisata.
“Selama inflasi dalam negeri tetap terjaga dan stabilitas keamanan nasional dapat dipertahankan, pelemahan rupiah justru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata Indonesia di pasar internasional. Yang terpenting adalah menjaga kualitas layanan dan kenyamanan wisatawan,” ujarnya.
Bamsoet juga mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah memanfaatkan momentum tingginya kunjungan wisatawan asing untuk memperkuat promosi internasional, meningkatkan kualitas infrastruktur pendukung pariwisata, memperluas konektivitas penerbangan, serta menjaga kelestarian lingkungan dan budaya Bali.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar pertumbuhan sektor pariwisata tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga memberikan dampak berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat setempat.
“Krisis geopolitik dunia akan selalu datang dan pergi. Namun selama Indonesia mampu menjaga stabilitas nasional, keamanan destinasi wisata, kualitas pelayanan, serta daya tarik budaya yang khas, Bali akan tetap menjadi daya tarik wisata dunia. Bahkan di tengah ketidakpastian global, Bali memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi pariwisata terbaik di dunia,” tutupnya. (ayb)


