BRIEF.ID – Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun meningkat pada perdagangan Senin (10/8/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Yield US Treasury 10 tahun ditutup di sekitar level 4,705%, atau meningkat lebih dari 4 basis poin (bps) dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kenaikan yield terjadi ketika investor bersiap menghadapi rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) pekan ini.
Pergerakan tersebut juga dipengaruhi kenaikan harga minyak yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Harga minyak melonjak sekitar 5% pada Senin di tengah ketidakpastian terkait potensi pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Investor kini menunggu data Consumer Price Index (CPI) AS Juli 2026 yang akan menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan ekspektasi kebijakan The Fed. Pasar memperkirakan inflasi utama berada di sekitar 3,4% secara tahunan (YoY).
Kenaikan yield juga terjadi setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan sebelumnya sempat meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter. Namun, kenaikan harga minyak dan potensi tekanan inflasi kembali membuat investor berhati-hati.
Kenaikan yield US Treasury menjadi perhatian bagi pasar keuangan global karena dapat meningkatkan biaya pendanaan dan memengaruhi valuasi berbagai aset, termasuk saham dan obligasi negara berkembang.
Bagi pasar Indonesia, kenaikan yield US Treasury dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi arus modal asing, nilai tukar rupiah, serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
Investor akan mencermati hasil CPI AS dan komunikasi pejabat The Fed untuk menentukan arah pasar obligasi dan ekspektasi suku bunga dalam beberapa pekan mendatang. (nov)


