BRIEF.ID – Pasar saham Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Senin (17/8/2026), menjauh dari rekor tertinggi setelah kenaikan tajam harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi dan kondisi pasar keuangan.
Indeks acuan S&P 500 turun 0,5% dan ditutup pada level 7.745,06 poin. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melemah 0,3% ke posisi 26.644,91 poin, sementara indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average turun 0,5% dan berakhir di level 53.459,78 poin.
Ketiga indeks utama Wall Street tersebut mencatat penurunan untuk hari kedua berturut-turut. Tekanan pasar semakin kuat seiring kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi dan prospek suku bunga Amerika Serikat.
Tekanan semakin terasa ketika harga minyak mentah melonjak. Harga Brent, yang menjadi patokan minyak mentah global, naik sekitar 2,7% menjadi US$ 90,87 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga meningkat sekitar 2,5% menjadi US$ 84,50 per barel.
Kenaikan harga minyak kembali menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan biaya energi dan memperbesar tekanan inflasi. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Pergerakan harga minyak sangat dipengaruhi ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran serta terganggunya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia. Kebuntuan diplomasi membuat pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi global.
Selain harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menambah tekanan terhadap saham. Imbal hasil Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,72%, sementara imbal hasil Treasury 30 tahun mencapai sekitar 5,31%, level tertinggi sejak 2007.
Investor kini menunggu sejumlah laporan kinerja perusahaan besar Amerika, terutama perusahaan ritel seperti Home Depot dan Walmart. Data tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai daya beli konsumen di tengah inflasi dan pasar tenaga kerja yang mulai melemah.
Dengan demikian, perhatian pasar dalam beberapa hari ke depan akan tertuju pada perkembangan konflik dan diplomasi AS-Iran, pergerakan harga minyak, serta kebijakan Federal Reserve. Kombinasi ketiga faktor tersebut berpotensi menentukan apakah Wall Street mampu kembali melanjutkan penguatannya atau justru menghadapi tekanan yang lebih besar. (nov)


