BRIEF.ID – Indeks-indeks utama Bursa Wall Street, New York, Amerika Serikat (AS), ditutup melemah pada perdagangan Senin (10/8/2026). Investor mulai berhati-hati setelah Wall Street mencatatkan penguatan kuat pada pekan sebelumnya, sementara kenaikan harga minyak dan ketidakpastian terkait kebijakan moneter kembali menekan sentimen pasar.
Indeks S&P 500 turun 0,1% menjadi 7.753,11 poin. Nasdaq Composite melemah 0,3% ke level 26.605,36 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,1% menjadi 53.975,98 poin.
Pelemahan pasar terjadi setelah S&P 500 dan Dow Jones mencatatkan rekor pada pekan sebelumnya. Kenaikan sebelumnya didukung oleh kinerja perusahaan yang solid, pemulihan saham-saham semikonduktor, serta penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Namun, sentimen berubah pada awal pekan ini setelah harga minyak kembali melonjak. Harga minyak Brent meningkat hampir 5% menjadi sekitar US$87 per barel di tengah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi prospek kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Investor juga mencermati perkembangan kebijakan The Fed setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan sebelumnya mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga. Perhatian pasar kini beralih pada data inflasi AS yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang sebagai petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.
“Wall Street baru saja melewati pekan yang sangat kuat, namun ke depannya, saya memperkirakan pasar akan tetap fluktuatif,” ujar Yerbol Orynbayev, mantan gubernur Bank Dunia untuk Kazakhstan, dikutip dari Investing.com.
Menurut Orynbayev, penurunan tak terduga dalam data ketenagakerjaan berpotensi mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed. Namun, investor masih menghadapi ketidakpastian karena data inflasi Juli belum dirilis.
“Namun kita belum melihat data inflasi bulan Juli, sehingga ketidakpastian masih membayangi para investor,” ungkapnya.
Selain faktor makroekonomi, tekanan juga datang dari saham teknologi. Sejumlah saham teknologi besar melemah dan turut membatasi penguatan indeks Nasdaq. Di sisi lain, saham-saham energi mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan harga minyak, data inflasi AS, serta komunikasi pejabat The Fed. Kombinasi ketiga faktor tersebut akan menjadi penentu arah Wall Street dalam beberapa sesi perdagangan mendatang. (nov)


