BRIEF.ID – Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026), tertekan lonjakan harga minyak setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer untuk pertama kalinya sejak Juli.
Sentimen pasar juga terbebani aksi jual obligasi pemerintah AS atau US Treasury, terutama surat utang bertenor panjang. Tekanan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September setelah pidato bernada hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi Jackson Hole.
Indeks S&P 500 turun 0,3% menjadi 7.685,42 poin. Indeks teknologi Nasdaq Composite melemah 0,1% ke level 26.370,89 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,7% menjadi 53.186,32 poin.
Meski perdagangan Senin berakhir di zona merah, saham AS tetap mencatat kinerja positif sepanjang Agustus. Kenaikan tersebut sekaligus mengakhiri tren penurunan selama dua bulan berturut-turut.
Penguatan pasar saham sepanjang Agustus didukung musim laporan keuangan perusahaan yang solid serta mulai meredanya aksi jual pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI).
Namun, kenaikan pasar masih dibatasi oleh konflik yang berlangsung di Timur Tengah serta ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Investor kini menghadapi dua faktor utama yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar, yakni risiko geopolitik yang mendorong harga energi dan ketidakpastian kebijakan moneter AS.
Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, sementara ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap valuasi saham dan obligasi. (Investing.com/AP/nov)


